MENENTUKAN EFISIEN SET UNTUK MEMPEROLEH PORTOFOLIO YANG OPTIMAL BERDASARKAN MODEL MARKOWITZ

Standar

Memilih Portofolio Dari Aktiva Berisiko
Diversifikasi yang disarankan oleh Markowitz mengacu pada pembentukan portofolio yang memiliki tingkat pengembalian tertinggi pada tingkat risiko tertentu. Portofolio semacam itu disebut Markowitz Efficient Portofolio (MEP). Untuk membentuk MEP, teori ini menggunakan beberapa asumsi dasar mengenai perilaku pemilihan aktiva.

  • Pertama, diasumsikan hanya ada dua parameter yang mempengaruhi keputusan investor, yaitu pengembalian yang diharapkan dan varians. Maka, investor membuat keputusan dengan menggunakan model dua parameter yang dirumuskan oleh Markowitz.
  • Kedua, diasumsikan investor cenderung menghindari risiko (yaitu jika menghadapi pilihan dua pilihan investasi dengan tingkat pengembalian yang sama, maka dipilih investasi dengan risiko yang lebih kecil).
  • Ketiga, diasumsikan investor akan memilih portofolio yang menawarkan pengembalian tertinggi dengan tingkat risiko tertentu.
  • Keempat, diasumsikan selurh investor memiliki pengharapan yang sama dalam hal pengembalian diharapkan, varians dan kovarians bagi aktiva berisiko. Asumsi ini disebut dengan asumsi pengharapan sama.
  • Kelima, diasumsikan bahwa selurh investor memiliki periode waktu investasi yang sama.

Portofolio yang Efisien dan Portofolio yang Mungkin
Portofolio yang mungkin adalah portofolio yang dapat dibentuk oleh investor dari aktiva yang tersedia. Kumpulan portfolio yang mungkin disebut dengan serangkaian portofolio yang mungkin digambarkan sebagai kurva yang menunjukkan kombinasi risiko dan pengembalian yang dapat dicapai dengan jalan membentuk portofolio dari kombinasi dua aktiva yang tersedia. Dalam Gambar 4-1 serangkaian portofolio yang mungkin dinyatakan sebagai kombinasi saham C dan D dengan E(Rp) dan SD (Rp) ditunjukkan pada Tabel 4-1 dan ditunjukkan oleh kurva 1-5

Gambar 4-1. Serangkaian Portofolio yang Mungkin dan yang Efisien bagi Saham C dan
Saham D

Jika dipertimbangkan untk membuat kombinasi lebih dari dua aktiva, maka rangkaian portofolio yang mungkin tidak lagi berbentuk garis kurva, namun akan ditunjukkan sebagai wilayah berbayang-bayang dalam gambar 4-2.
Gambar 4-2. Rangkaian Portofolio yang Mungkin dan Efisien jika terdapat lebih dari dua
Aktiva

Berlawanan dengan portofolio yang mungkin, portofolio efisien Markowitz adalah portofolio yang memberikan tingkat pengembalian tertinggi di antara portofolio yang memberikan tingkat pengembalian tertinggi di antara portofolio yang ada dengan tingkat risiko yang sama. Portofolio efisien Markowitz disebut juga mean-variance efficient Markowitz. Jadi untuk setiap tingkat risiko terdapat portofolio efisien Markowitz. Kumpulan dari seluruh portofolio efisien disebut kumpulan portofolio yang efisien Markowitz.

Hal ini dapat ditunjukkan secara grafis pada Gambar 4-1. Kombinasi saham C dan D terletak pada bagian kurva 2-5 dalam gambar. Kombinasi saham C dan D yang efficient Markowitz ini menawarkan pengembalian tertinggi dengan tingkat risko tertentu.
Gambar 4-3 juga menunjukkan kumpulan portofolio efisien Markowitz. Seluruh portofolio pada kumpulan portofolio efisien Markowitz mengalahkann portofolio pada wilayah berbayang-bayang.
Gambar 4-3. Pemilihan portofolio yang Optimal
Kumpulan portofolio efisien Markowitz disebut kumpulan portofolio efisien Markowitz karena secara grafis seluruh portofolio tersebut terletak pada batas serangkaian portofolio yang mungkin yang memiliki pengembalian maksimal untuk tingkat risiko tertentu. Setiap portofolio di atas kumpulan portofolio efisien Markowitz tidak dicapai. Sedangkan portofolio di bawah kumpulan portofolio efisen Markowiz tidak sebaik portofolio pada kumpulan portofolio Markowitz.

Memilih suatu Portofolio dalam Markowitz Efficient Frontier (MEF)
Setelah pembentukan MEF, langkah selanjutnya adalah menentukan portofolio yang optimal. Seorang investor ingin mengelola salah satu portofolio dari MEF. Perhatikan bahwa portofolio-portofolio pada MEF menunjukkan adanya timbal balik antara risiko dan pengembalian. Jika suatu portofolio pada MEF berada semakin ke kanan, maka semakin meningkat risiko yang dihadapinya demikian pula dengan pengembalian yang diharapkan. Portofolio terbaik untuk dikelola adalah portofolio yang optimal.
Portofolio optimal seharusnya bergantung pada preferensi investor yang berkaitan dengan trade-off antara risiko dan pengembalian yang dimilikinya. Sebagaimana yang dijelaskan pada bagian awal bab ini, preferensi ini dapat dinyatakan dalam bentuk fungsi kegunaan.
Dalam gambar 4-3, ada tiga kurva indiferen menunjukkan kombinasi risiko dan pengembalian yang diharapkan yang memberikan tingkat kegunaan yang sama. Semakin jauh kurva indiferen dari suatu sumbu horizontal, semakin tinggi kegunaan/kepuasan.
Gambar 4-4. Pemilihan Portofolio yang Optimal dengan Kurva Indeferen yang Berbeda
U1,U2,U3 = kurva-kurva yang tidak berbeda dengan U1<U2<U3
PMEF = portofolio yang optimal pada MEF

Ketidakmampuan dalam mengukur fungsi kegunaan bukan berarti teori yang ada tidak baik. Maksudnya adalah pada saat investor membentuk MEF, investor secara subyektif akan menentukan portofolio mana yang sesuai dengan toleransi risiko yang bersedia dihadapinya.

SIMPOSIUM NASIONAL EKONOMI ISLAM Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam

Standar

kampanye nasional FOSSEI

[fossei.org pekanbaru 16/05/08] Bertempat di kota Pekanbaru, Riau tepatnya tanggal 12-14 Mai 2008, Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) menyelenggarakan sebuah kegiatan berskala nasional dalam rangka memperingati ulang tahun FoSSEI ke-8, yaitu Seminar Nasional yang dilanjutkan dengan Simposium Nasional. Meskipun kegiatan ini hanya dihadiri oleh perwakilan dari 6 Propinsi dari anggota FoSSEI, namun kegiatan ini tetap berlangsung sukses dan meriah.

Hari pertama peserta diajak untuk mengikuti Seminar Nasional bertempat di Aula BI Pekanbaru, dengan pemateri Bpk Ardian Yunanto (Direktorat Kebijakan Pembiayaan Syariah-Depkeu), Bpk Gatot Sugiono (Pimpinan BI Pekanbaru) dan Bpk Irfan Syauqi Beik (Pengamat Ekonomi Islam). Seminar yang bertemakan “Perkembangan Praktek Ekonomi Islam dan Pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah” ini dihadiri oleh 180 peserta yang mahasiswa, praktisi, akademisi dan wartawan.

Selanjutnya peserta kembali ke penginapan untuk membahas Simposium Nasional dari 3 propinsi di Indonesia yaitu Riau, Sumatera Barat dan Yogyakarta tentang perkembangan dan tantangan ekonomi syariah di masing-masing daerah. Simposium ini menghasilkan beberapa rekomendasi untuk pihak-pihak yang berwenang yaitu antara lain:

REKOMENDASI HASIL SIMPOSIUM EKONOMI ISLAM

1. BI sebagai otoritas perbankan tertinggi di Indonesia mengupayakan pengembangan perbankan syariah dalam bentuk program kerja yang terintegritas.

2. Melakukan sosialisasi secara Sistimatik dan Holistik guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah.

3. Segera sahkan RUU perbankan syariah.

4. Intensifkan peran ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidkan dalam mensosialisasikan perbankan syariah.

5. Memasukkan kurikulum Ekonomi islam untuk tingkat pelajar SMP dan SMA.

Esok harinya (13/05) para peserta melakukan aksi damai di bundaran air mancur Pekanbaru sebagai bentuk kampanye nasional ekonomi syariah disertai dengan membawa dan menyerahkan hasil rekomendasi SImposium Nasional kepada BI Pekanbaru dan Gubernur Riau sebagai dukungan dan tekanan kepada mereka untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah.

Selain itu, FoSSEI juga melakukan siaran pers dan dialog di RRI Pekanbaru selama satu jam dengan memaparkan perkembangan ekonomi syariah dan mengajak semua masyarakat Pekanbaru untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah dengan salah satu cara yaitu turut menabung di Bank Syariah.

Di akhir acara (14/05) kegiatan ditutup dengan peringatan MILAD ke -8 FoSSEI dan sambutan serta dukungan dari perwakilan dari walikota Pekanbaru. Semoga sekelumit kegiatan ini bisa menjadi percikan-percikan kebangkitan ekonomi syariah di Indonesia. Diharapkan untuk FoSSEI masing-masing regional membawa hasil Simposium ini dan menyerahkannya kepada pihak-pihak yang berwenang. [Farizal-COCODA]

Revivalisme Sektor Kelautan dan Perikanan (ceritanya dikaitkan dengan momen yang katanya “1 abad kebangkitan nasional”)

Standar

Anggaran dan Kebijakan

  • Sebenarnya tahun 2005 ini Pemerintah sudah mencanangkan Anggaran untuk DKP.
  • Namun, meski kita tau politik anggaran adalah salah satu faktor, hendaknya kita coba juga melihat faktor lain, selain kenyataan sekarang Kelautan dan Perikanan hanya dapat anggaran yang kecil. Tujuannya, jadi setelah dapat anggaran yang besar, kita jadi tahu mau dimanfaatkan untuk apa…
  • Mengamankan potensi laut. Jarak 4 mil, global warming berdampak pada banyaknya air pasang.
  • Nelayan terikat perjanjian, sehingga tidak bisa menentukan harga.
Diantaranya:
Budaya Nelayan
  • Nelayan sulit diubah, kalau sudah melaut ya melaut, tapi kalau kondisi tidak memungkinkan biasanya belum punya budaya untuk mencari alternatif lain, budidaya ikan misalnya.
  • Perubahan paradigma, nelayan perlu perubahan budaya, edukasi pada nelayan, serta pendampingan bidang lain. Sertifikasi jika perlu sebagaimana profesi lain.
  • Sebagaimana Driver atau satpam yang ada pendidikan. Maka harus ada pendidikan ke arah itu. Sebab menjadi nelayan kan tidak hanya kemampuan untuk berlayar…
Kualitas Kapal
  • Jangkauan kapal hanya beberapa meter ke laut, kapal kecil. Tidak semua wilayah.
  • Perlu ada Relokasi, selau peningkatan teknologi kapal, kapal pakai motor, dsb.
  • Wilayah yang sudah dapat dijangkau selam ini, ikannya juga sudah sedikit.
Pro-Nelayan dan Kelautan

  • Belum ada keberpihakan secara serius pada nelayan.
  • Pola pikir masyarakat kita masih ke darat.
  • Perumahan memang ada lautnya, tapi membelakangi.
  • Rumah susun, apakah ada rumah susun untuk nelayan
Alternatif Solusi
  • Jangka pendek, menengah, panjang: budaya. Aplikasi untuk jangka panjang ada yang dapat dikerjakan dari sekarang, penyuluhan ke nelayan, peningkatan pelayanan.
  • Koperasi ; untuk membantu ekonomi nelayan.
  • Tata niaga kelautan; misalnya ikan setelah ditangkap dibawa ke pabrik tertentu ikan dikemas tapi dibuat “made in Singapore, Korea, etc.” Banyak nelayan kita yang kerja dengan asing.
  • Sinergisitas; Untuk memajukan DKP perlu sinergis, perhatian pada kelautan dan kesejahteraan nelayan. Jadi, selain dana yang sudah dianggarkan DPR dalam APBN, dapat juga mengoptimalkan dana di luar ketentuan DPR yang bekerjasama dengan bidang dan lembaga lain.
  • Pengawasan internal ; perlu diperhatikan, pembagian pancing, bukan hanya nelayan, sehingga pancing tidak manfaat.
  • Tepat Guna; Pembagian dana untuk nelayan, ada yang bukan nelayan menerima.
  • Pemberdayaan daerah; Sekuat apapun pemerintah pusat, kalau di daerah tidak diberdayakan, maka akan menjadi angan-angan saja.
  • PEMP (Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pesisir) banyak yang tidak sampai dan alat banyak nganggur. UU wilayah pesisir; perlu ketentuan operasional, perlu legal aspek dan rencana. pemerintah. Tapi ada UU yang belum jadi, jadi pemerintah dinilai agak lamban.
  • Sulit ke SPBU sehingga harus ‘ngeteng’ mengambil bahan bakar.
Ingat, Kita adalah Negara Maritim…
  • Jika mau menyejahterakan rakyat, ya harus serius sejahterakan nelayan. Data statistik, jumlah penduduk pesisir 4 jutaan, nelayan 2,7 juta. Kehidupan nelayan paling memprihatinkan, harus dimaksimalkan, karena kita adalah negara maritim/ kelautan.
  • Kebangkitan Indonesia sangat terkait dengan dua hal: Kebangkitan nelayan dari miskin menjadi sejahtera dan pengelolaan sumber daya kelautan.

Sekian dulu.
Arya Sandhiyudha (Abu Revivo)