Membumikan Ekonomi Syari’ah

Say No To Riba

Takut Kepada Syirik

Firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapapun yang dikehendaki- Nya.” (An-Nisaa’: 116)

Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam berkata:
“…dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari (perbuatan) menyembah berhala-berhala. ” (Ibrahim: 35)
 
Diriwayatkan dalam satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesuatu yang paling aku khawatirkan kepada kamu sekalian adalah perbuatan syirik kecil. Ketika ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: Yaitu riya’.” (HR Ahmad, Ath-Thabarani, Ibnu Abid-Dunya dan Al Baihaqi dalam kitab Az-Zuhd)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, masuklah ia ke dalam neraka.” (HR Bukhari)

Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun, pasti masuk surga, tetapi barang siapa menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat sesuatu syirik kepada-Nya, pasti masuk neraka.”

Kandungan tulisan ini:

  1. Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi.
  2. Riya’ termasuk perbuatan syirik.
  3. Riya’ termasuk syirik ashghar (kecil).

Syirik ada 2 macam:

  1.  
    1. Syirik akbar (besar) yaitu memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, dalam hal-hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya.
    2. Syirik ashghar (kecil) yaitu perbuatan yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits sebagai suatu syirik tetapi belum sampai ke tingkat syirik akbar.

Adapun perbedaan antara keduanya:

  1.  
    1. Syirik akbar menghapuskan seluruh amal, sedangkan syirik ashghar hanya menghapuskan amal yang disertainya saja.
    2. Syirik akbar mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedang syirik ashghar tidak sampai demikian.
    3. Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedang syirik ashghar tidak menyebabkan keluar dari Islam.
  2. Syirik ashghar ini adalah perbuatan dosa yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para sahabat, padahal mereka ini adalah orang-orang shaleh.
  3. Surga dan neraka adalah dekat.
  4. Dekatnya surga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.
  5. Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun pasti masuk surga. Tetapi barangsiapa mati dalam keadaan berbuat sesuatu syirik kepada-Nya, pasti masuk neraka, sekalipun dia termasuk orang yang paling banyak ibadahnya.
  6. Masalah penting yaitu: bahwa Nabi Ibrahim memohon kepada Allah untuk diri dan anak cucunya supaya dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.
  7. Nabi Ibrahim mengambil pelajaran dari keadaan sebagian besar manusia, yaitu bahwa mereka itu adalah sebagaimana kata beliau: “Tuhanku! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia…” (Ibrahim: 36)
  8. Tafsiran kalimat Laa ilaha illa Allah, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, yaitu: pembersihan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah.
  9. Keutamaan orang yang dirinya bersih dari syirik.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

sumber : fossei@yahoogroups.com

 

Desember 1, 2008 Ditulis oleh Neng | keislaman | , | Belum Ada Tanggapan

Dollar Yang Perkasa

“Bagaimanapun, BI menghadapi situasi sulit, sama seperti yang dihadapi banyak negara karena mata uangnya tenggelam oleh supremasi dolar AS. Ekonomi AS yang memburuk tapi mata uangnya kian perkasa memang anomali dan sulit dicerna, namun situasi ini tak bisa dilawan. Mayoritas dolar AS yang selama ini berada di luar AS, terutama emerging markets, kembali ke ‘kampung halaman’ untuk berkonsolidasi. Entah sampai kapan dolar-dolar itu akan kembali berinvestasi ke negara lain.” 
Menyikapi Rupiah Secara Wajar-diambil dari website Fiskal, Departemen Keuangan

 

Ya, selama ini dollar (sejak tahun 1971-1973, saat kaitan dollar dengan emas dilepaskan, 1 ons emas sama dengan 35 dollar) memang dalam kondisi terancam, sekian banyak mata uang dollar AS yang berada di luar Amerika Serikat (AS), sekitar dari 2/3 dari dollar kalo tidak salahyang jelas lebih dari setengahnyakembali ke AS dan menimbulkan inflasi dan gejolak ekonomi yang hebat di AS, bahkan globaldimana seharusnya tidak terjadi secara berlebihan di beberapa negara, seperti di Indonesia kita tercinta ini.

 

AS selama ini berusaha mencegah kembalinya dollar tersebut, terlebih dengan semakin meluasnya defisit neraca AS yang sempat menyentuh lebih dari 400 miliar US dollar, yang berarti AS semakin “mengobral” dollar ke luas AS. Kembalinya dollar tersebut sama dengan “bunuh diri” bagi AS. Akan terjadi inflasi yang cukup signifikan angkanya untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Selain inflasi, saat ini saja AS sudah mengalami transfer asetnya ke pihak asing, terutama berupa tanah di AS sendiri. Pintarnya , AS saat itu sebenarnya tidak sepenuhnya melepas kaitan minyak bumi dengan emas, well setidaknya tidak dengan emas hitam atawa yang disebut dengan minyak bumi. Ya, denominasi emas hitam ini dalam dollar, means that kalo mau beli minyak bumi siapkanlah dollar. Hal ini memaksa negara-negara lain untuk setidaknya menahan dollar dalam cadangan devisa mereka, misal Cina dengan cadangan devisanya yang besar, yang mencapai lebih dari 1 trilyun dollar AS, sepertiganya merupakan dollar AS.

 

Beberapa negara mulai menyadari hal ini, dan bahkan berani mengambil tindakan untuk mengganti penjualan komoditinya dengan dollar termasuk hasil minyak nya, yakni Iran , Irak (sebelum diserang) dll. Beberapa sebelum AS menginvasi Irakdengan doktrin pre-emptive war-nya yang tidak jelas, yang membuat AS bisa menyerang siapa saja dengan dalih melindungi keamanan negerinyaIrak telah mengganti denominasi penjualan minyaknya dari dollar menjadi euro. Dalam suatu film dokumenter karya John Pilger (The World New Rulers), diakhir film terdapat suatu dokumen dari United States Space Commands (USSC), yang menyatakan bahwa globalisasiversi ASharus dipertahankan dan mereka akan menggunakan kekuatan militer untuk menjaga hal tersebut, termasuk menetralisir hal ancaman terhadap ekonomi (dollar AS), well lumayan menyeramkan yah.

 

Iran yang stance politiknya sejak 1979 umumnya selalu bersimpangan dengan AS, terlebih sejak naiknya kembali kelompok konservatif ke tampuk pemerintahan dengan terpilihnya Ahmadinejad sebagai Presiden Iran, berusaha sebisa mungkin untuk “menyerang” AS melalui dollar-nya sendiri. Iran sejak 3 tahun yang lalu telah merubah denominasi seluruh komoditi ekspornya ke denominasi selain dollar, namun prefer euro. Bahkan canggihnya, Iran sudah membuka bursa minyaknya sendiri dengan denominasi selain dollar, namun prefer euro. Dan hingga saat ini pun bayang-bayang Iran akan diserang oleh AS dan sekutunya juga belum pudar, bahkan di satu titik semakin mengental dengan alasan isu nuklir Iran . Menarik untuk melihat apa yang akan dilakukan Obama mengenai hal ini.  

 

Iran (dan juga Venezuela ) termasuk pihak-pihak yang menyarankan mengubah denominasi dollar dalam penjualan minyak OPEC (yang memproduksi 1/3 minyak mentah di dunia), namun ditentang oleh gembong minyak Arab Saudi. Sekarang lihat keadaan rezim di Venezuela dan Iran (Keduanya selalu diserang AS, bahkan Chavez sempat mengalami kudeta yang gagal).

 

Satu sisi yang menarik dalam hal ini adalah, ironisnya krisis yang terjadi di AS (dan juga kembalinya dollar ke AS), yang seharusnya memukul parah AS saja, tapi juga menyebabkan perekonomian di negara-negara lain (yang notabene tidak terlalu terkait) ikut terjembab ke dalam krisis. Dan yang lebih aneh, kenapa dollar masih perkasa?

 

Memang tidak dipungkiri, titik kesetimbangan bergerak. Dan akan terus begitu, sudah sunnatullah. AS mewarisi 2/3 perekonomian dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II dan terus menurun sejak itu hingga 1/3 hingga sekarang dan posisinya terancam Cina dan India . Bisa dibayangkan AS yang GDP nya lebih dari 10,5 Trilyun Dollar AS, bahkan salah satu sumber menyebut 13 Trilyun dollar AS. Merupakan pasar yang mau tidak mau tetap berpengaruh terhadap perekonomian global. Contoh sederhana, komputer dan segala tetek bengek-nya aj di Mangga 2 pada dasarnya dijual pake dollar. Dan saat ini segala sesuatu hampir “terkomputerisasi”.

 

Selain itu kaitan dollar dengan minyak bumi mau tidak mau pasti akan dijaga AS dengan sangat-sangat. Dollar menjadi suatu mata uang yang banyak diinginkan saat ini dikarenakan “kelangkaannya”. Negara-negara sebagian besar menahan dollar mereka agar tidak keluar dan permintaan likuiditas sendiri di AS juga tinggi karena sedang seret. Akibat permintaan yang tinggi dan maka harga dollar naik. Dan sialnya hal ini berdampak terhadap perekonomian negara Indonesia kita tercinta ini.

 

A. Riawan Amin dalam bukunya the “Satanic Finance” menyatakan terdapat 3 pilar dalam perekonomian satanic, yaitu riba, fiat money (uang kertas), dan fractional reserve requirement (sejumlah uang yang harus dipegang oleh suatu institusi (bank umumnya) terkait deposito ataun simpanan nasabah, untuk menangani transaksi sehari-hari). Untuk riba dan fractional reserve requirement (untuk hal ini terdapat di ilustrasi Gago and Sago) hal tersebut sudah jelas dan AS membutuhkan sedikit tenaga dalam melindungi ini dan melepasnya dalam mekanisme pasar dan sebaiknya pula diperangi dengan mekanisme pasar melalui perekonomian syariah atau perbankan syariah. Namun untuk fiat money (dollar AS) dan bentuk turunan sistemnya, AS akan habis-habisan melindunginya dengan “invisible hand”-nya.

 

Walter Russel Mead, menjelaskan dalam tulisannya “sticky power”, bahwa AS akan menggunakan power-power yang ada, termasuk sticky power, dalam melindungi kepentingannya. Sticky power yang diibaratkan sebagai jaring laba-laba yang memerangkap lawannya dan menjeratnya akan memaksa musuh-musuhnya menuruti keinginannya. Sticky power tersebut dibangun sejak lama sekali, sejak PD II. Dimulai dengan memberikan “bantuan” berupa hutang yang luar biasa besar kepada suatu negara dan pada akhirnya akan membuat negara tersebut bergantung terhadap AS dan juga terjerat hutang luar negeri, dan menyebabkan negara tersebut “berpikir” kejatuhan AS juga berarti kejatuhan negara tersebut, sebuah ketergantungan. Maka mau tidak mau negara tersebut tidak akan membiarkan hal tersebut dan memilih berpihak untuk mendukung dollar AS. AS juga menggiatkan dollarisasimengaitkan mata uangnya dengan pergerakan dollar ASterhadap negara-negara lain. Setiap negara yang akan berusaha melepaskan ketergantungan akan perekonomian AS, khususnya lepas dari dollar AS akan menemui suatu usaha yang sulit, bahkan tak jarang AS memainkan soft power dan hard power-nya secara invisible atau terang-terangan dalam multitrack diplomacy-nya untuk “menggoyang” untuk mempertahankan hubungan tersebut atau mencoba lebih menancapkan pengaruhnya di suatu negara yang memang memiliki interest AS (umumnya emas dan minyak bumi serta sumber daya lainnya yang berharga).

 

Selain itu ekspor gaya hidup juga ikut berpengaruh. Gaya hidup dan nilai-nilai masyarakat AS yang sangat boros dan berlebihan juga ikut diekspor ke negara-negara berkembang, yang pada akhirnya mempengaruhi juga gaya hidup (terutama konsumsi) dan nilai-nilai di negara-negara berkembang. Hal ini juga ikut mempengaruhi perekonomian dan membuat perekonomian sangat bergantung kepada AS, terutama gaya hidup yang penuh dengan “komponen import”. Akan sangat sulit melepaskan gaya hidup, walau bisa. Namun dibutuhkan suatu kesadaran dan usaha yang keras, itupun jika sudah mepet banget. Sticky power itulah yang dimainkan AS sejak lama sekali, dan nampaknya Indonesia, sejak awal Orba dengan adanya UU PMA 1967 telah terpengaruh untuk masuk ke dalam jaring perangkap tersebut.

 

Usaha-usaha yang mengancam pilar kekuatan dollar AS baik secara langsung atau tidak langsung akan segera direspon (cara lembut atau keras/militer) oleh AS. Untuk melindungi eksistensi dollarnya dan pengaruhnya, AS menggagalkan usaha/gagasan dibentuknya Asian Monetary Fund (AMF) dan juga usaha negara-negara produsen bahan mentah atau hasil bumi yang signifikan yang berusaha melepas kaitan komoditinya dengan dollar, terutama minyak bumi. Hal itu akan membuat negara-negara melepas dollarnya dalam cadangan devisanya karena dianggap tidak signifikan lagi.

 

Jadi gagasan dibentuknya suatu mata uang tunggal atau single currency pasti akan menghadapi suatu “hambatan” besar. Untuk dinar dan dirham juga dibutuhkan suatu cadangan emas dan perak yang besar untuk meng-cover volume perdagangan yang ada, dimana umumnya negara-negara berkembang belum mampu. Mungkin bisa untuk sementara menggunakan uang kertas, dengan syarat fiat money tersebut tidak dikaitkan dengan suku bunga dan tidak boleh diperdagangkan. , yang berarti mau tidak mau hanya ada satu jenis mata uang saja (mungkin, hanya saja akan berdarah-darah) atau memang mengeluarkan aturan pegging (mematok) mata uang (yang akan sulit dilakukan, dikarenakan harus mempunyai cadangan devisa yang cukup besar dan komoditi andalan pula, atau memiliki perekonomian yang sama sekali tidak bergantung dari perekonomian luar, bisakah?).

 

So dapat disimpulkan bahwa kuatnya dollar AS (walau AS sedang resesi) dan mengapa negara kita terpengaruh sangat kuat dalam resesi ini, tidak terlepas dari hal-hal berikut:

- Walau kemunculan cina dan India membuat sinar perekonomian AS meredup, kapitalisasi perekonomian AS masih kuat dan berpengaruh dalam perekonomian global.

- Masih kuatnya kaitan dollar dengan minyak bumi dan komoditi berharga lainnya dan hal ini berpengaruh dalam supply-demand dollar dikarenakan, negara-negara masih membutuhkan dollar dalam cadangan devisanya demi memenuhi kebutuhannya. Hal ini membuat dollar secara otomatis menjadi mahal, dikarenakan demand terhadap dollar tinggi baik di AS sendiri dan di luar AS.

- Perekonomian Indonesia yang dikatakan secara fundamental kuat, namun juga secara fundamental belum terlepas dari sticky power AS.

 

Perlahan tapi pasti terjadi pergeseran dalam titik kesetimbangan. Pasar berusaha meng-koreksi sistem yang ada dengan secara dialektis dalam bentuk suatu regulasi. Dengan pertemuan G-20 yang hasilnya berupa koreksi terhadap sistem yang ada, sebenarnya secara prinsip tidak mengalami perubahan yang signifikan. So mungkin inilah saat yang tepat untuk menggiatkan perekonomian syariah dan menggiatkan gaya hidup syariah pula, yang terbebas dari sticky power.

 

Banyak “ghanimah” menanti, mereka yang saat ini dikecewakan dengan sistem konvensional yang ada. Kemudian gaya hidup ke mal dan jajan ke restoran cepat saji a la Mc Donald dan Kentucky atau sebangsanya dialihkan ke pasar-pasar tradisional dan restoran-restoran lokal punya anak bangsa. Dan satu lagi, himbauan Menkeu Perekonomian dan Gubernur BI untuk melepas dollar adalah tepat, bukan merupakan langkah panik yang disuarakan sejumlah orang. Lepaslah dollar Anda jika memang Anda punya (atau buat saya saja, he he, abis itu saya jual tentunya, he he). 

Desember 1, 2008 Ditulis oleh Neng | Keuangan | | Belum Ada Tanggapan

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh” Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat”?

Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan ” Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.

Justeru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.

Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua” Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir ? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya” . Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan dengan memakai tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil, rumah mewah, “toko emas berjalan” dan segudang asesori. Saat fatwa digenderangkan, telinga ummat telah tuli oleh dentam berita tentang hiruk pikuk pesta dunia yang engkau ikut mabuk disana. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”

Ust. Rahmat Abdullah (alm)

Desember 1, 2008 Ditulis oleh Neng | keislaman | | Belum Ada Tanggapan