Tantangan Akselerasi Pertumbuhan Perbankan Syariah

Sejak keluarnya Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998, perkembangan Lembaga Bank Syariah cukup pesat, yang selama 7 tahun hanya diisi oleh satu pemain, yakni Bank Muamalat Indonesia. Perkembangan tersebut, dimulai dengan berdirinya Bank Syariah Mandiri yang merupakan anak perusahaan Bank Mandiri dan kemudian diikuti oleh berbagai bank yang Kantor Cabang Syariah, bahkan sebuah Bank Asing Global telah membuka Unit Syariah di Indonesia, yakni Hongkong Shanghai Bank Corp. (HSBC). Hingga akhir triwulan III-2007, terdapat 3 Bank Umum Syariah dan 25 Unit Usaha Syariah. Di samping itu, telah tercatat pula di Bank Indonesia sebanyak 109 lembaga Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), serta lebih dari 3.000 lembaga Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai salah satu alternatif lembaga keuangan syariah mikro. Seiring dengan pertumbuhan lembaga perbankan syariah, lembaga keuangan lain berbasis syariah berkembang pula, seperti berbagai asuransi, termasuk asuransi asing (yakni Great Eastern, Prudencial, Alianz, dan MAA), penggadaian, reksa dana Syariah, serta berbagai perusahaan besar mengeluarkan obligasi Syariah guna mencari dana bagi usaha mereka. Setelah diakomodasinya Bank Syariah pada Undang-Undang Perbankan No. 10/1998, maka dari tahun 2000 hingga tahun 2004, dapat dirasakan pertumbuhan Bank Syariah cukup tinggi, rata-rata lebih dari 50% setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2003 dan 2004, pertumbuhan Bank Syariah melebihi 90% dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2005 dan 2006, dirasakan ada perlambatan, meskipun tetap tumbuh sebesar 37% dan 28%. Akan tetapi, walaupun dirasakan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia melambat, sebenarnya pertumbuhan sebesar itu merupakan prestasi yang cukup baik. Perlu disadari, bahwa di tengah tekanan yang cukup berat terhadap stabilitas makroekonomi secara umum dan perbankan secara khusus, kondisi industri perbankan syariah tetap memperlihatkan peningkatan kinerja yang relatif baik. Di samping itu, dapat pula dipahami, bahwa meskipun share bank syariah pada saat ini (per November 2007) baru 1,756%, namun hal tersebut telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan share pada tahun 1999 yang hanya 0,11%. Untuk mempercepat pertumbuhan perbankan Syariah, Bank Indonesia mencanangkan program akselerasi perbankan Syariah untuk mencapai pangsa 5,25% pada akhir 2008 (proyeksi aset Rp 91,6 trilyun, DPK Rp 73,3 trilyun, dan pembiayaan Rp 68,9 trilyun). Berdasarkan outstanding perbankan syariah per November 2007 (asset Rp 33,288 trilyun, DPK Rp 25,658 trilyun, pembiayaan Rp 26,548 trilyun), maka pencapaian akselerasi asset perbankan syariah mencapai Rp 91,6 trilyun atau menjadi 275% dalam satu tahun adalah sebuah perjuangan besar bagi semua pelaku perbankan syariah. Dengan demikian setiap bank harus bisa membuat strategi bisnis agar dapat berkontribusi positif dalam program akselerasi BI dan siap menghadapi persaingan yang semakin ketat di antara pelaku perbankan syariah, baik pemain lama maupun baru. Sebagai respon dari program akselerasi bank Syariah yang dicanangkan Bank Indonesia , beberapa bank menyusun beberapa rencana corporate action di tahun 2008, antara lain adalah: Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengakuisisi Bank Jasa Artha menjadi BUS (Bank Umum Syariah) dan spin off UUS (Unit Usaha Syariah) digabungkan ke dalam BUS baru dengan penambahan modal awal sebesar Rp500M dari Rp1T yang akan ditempatkan, serta akan mengkorversi sekitar 1.000 BRI Unit menjadi outlet syariah; Bank Negara Indonesia (BNI) akan memperbesar UUS dengan menambah modal sebesar Rp300M dan bekerjasama dengan ICD (anak perusahaan IDB) untuk membuka BUS baru dengan cara mengakuisisi bank kecil dengan investasi sebesar Rp 100 milyar atau mendirikan bank baru dengan modal Rp 1 trilyun, sehingga BNI akan memiliki dua bank syariah terdiri atas UUS dan BUS; Bank Bukopin membeli saham dan aset kredit Bank Persyarikatan untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan tambahan dana sekitar Rp250M; Bank Panin mengakuisisi Bank Harfa untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar Rp200M; Bank Victoria Internasional mengakuisisi Bank Swaguna untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar Rp200M; Bank Central Asia (BCA) akan mengakuisisi 2 bank untuk dijadikan wealth management bank dan BUS (dengan dana sekitar Rp200M); Bank Jabar akan mengakuisisi sebuah bank yang selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar Rp500M; Beberapa BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang masih belum memiliki UUS segera membuka networking syariah; Beberapa bank konvensional domestik maupun internasional akan membuka UUS, antara lain, Bank Century, NISP, BTPN, Standard Chartered Bank (SCB), ABN-Amro, Citibank, dll (disamping Bank Ekspor Indonesia dan Lippo Bank yang telah membuka UUS pada trwulan terakhir 2007); Beberapa Bank Syariah baik yang sudah eksis maupun yang segera berdiri akan mengembangkan wealth management berbasis syariah, seperti HSBC Amanah, SCB, Citibank, BII, dan BCA. Berdasarkan hasil kajian penulis sesuai dengan rencana corporate action yang di launching di media masa baik dari pemain lama maupun pemain baru, asset perbankan syariah sesuai program akselerasi Bank Indonesia sebesar Rp 91,6 trilyun masih sulit untuk dipenuhi. Apabila rencana-rencana yang telah disampaikan oleh para pelaku eksisting maupun muka baru dapat dicapai secara optimal, maka diperkirakan asset yang dicapai berjumlah sekitar Rp 68,7 trilyun. Akan tetapi, semua rencana yang telah dikemukakan tersebut rasanya tidak serta merta akan terlaksana pada tahun 2008. Sebagai contoh, rencana BRI untuk spin off UUS menjadi BUS dan rencana Bank Bukopin untuk mengkonversi Bank Persyarikatan menjadi BUS dari awal tahun 2007 telah dilansir di media masa, namun hingga pertengahan Januari 2008 kedua rencana tersebut masih belum terealisir. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan moderat sesuai rencana-rencana yang telah dikemukakan, asset yang dapat dicapai tidak akan lebih dari Rp 50 milyar pada akhir tahun 2008. Untuk mecapai angka akselerasi yang dicanangkan Bank Indonesia , rasanya jika hanya mengandalkan pertumbuhan organik bank syariah semata akan sulit terealisasi. Oleh karena itu, pendapat-pendapat yang mengemukakan bahwa perlunya sebuah bank BUMN untuk dikonversi menjadi bank Syariah, merupakan suatu hal mungkin untuk diwujudkan. Kebijakan single presence yang dikeluarkan Bank Indonesia dalam kepemilikan bank di Indonesia dapat mendukung terwujudnya salah satu bank yang dimiliki pemerintah menjadi bank dengan segmen khusus. Dalam rangka program akselerasi, sesuai kajian Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia pada “Outlook Perbankan Syariah 2008” profil strategi penetrasi pasar perbankan syariah dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Kebijakan office channeling yang membuka kesempatan menawarkan layanan syariah pada cabang bank konvensional sangat mendukung penetrasi perbankan syariah melalui peningkatan aksebilitas bagi masyarakat untuk mendapat layanan Syariah, namun kesempatan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal; 2. Strategi komunikasi masih bersifat segmented yang mengakibatkan pertumbuhan jumlah rekening cenderung melambat karena segmen pasar mulai jenuh, sehingga perlu dilakukan penyesuaian terhadap strategi komunikasi; 3. Aktivitas promosi perbankan Syariah sangat kurang yang mengakibatkan ekspansi outlet layanan dan pengembangan berbagai produk tidak begitu dirasakan oleh masyarakat luas; 4. Inovasi produk belum mendorong pengembangan pasar karena masih sebatas meniru produk-produk sejenis yang telah diterima masyarakat dari bank konvensional, sehingga produk yang dikembangkan tidak menunjukkan diferensiasi yang jelas dari produk bank konvensional; 5. Pengembangan pasar untuk segmen korporasi belum maksimal sehingga penambahan jumlah kepemilikan rekening tidak disertai dengan peningkatan nominal sebagaimana tercermin dalam perkembangan rasio antara nominal dengan jumlah rekening yang cenderung stagnan bahkan menurun. Berdasarkan proposisi Bank Indonesia tersebut, apabila strategi penetrasi pasar para pelaku perbankan syariah tidak diperbaiki, maka akselerasi pertumbuhan yang diharapkan akan sulit terwujud. Hal-hal yang masih menjadi kendala dalam strategi penetrasi pasar perbankan syariah secara optimal dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: Para investor belum sepenuhnya yakin apakah bisnis bank syariah memang benar-benar suatu hal yang menguntungkan; Sumber Daya Manusia yang kompeten dan professional dalam perbankan syariah masih belum optimal; Pemahaman masyarakat terhadap bank syariah sudah cukup baik, namun minat untuk menggunakannya masih kurang; Sinkronisasi kebijakan dengan institusi pemerintah lainnya berkaitan dengan transaksi keuangan, seperti kebijakan pajak dan aspek legal belum maksimal; Fluktuasi suku bunga masih berpengaruh terhadap loyalitas nasabah syariah; Fungsi sosial Bank Syariah dalam memfasilitasi keterkaitan antara voluntary sector dengan pemberdayaan ekonomi marginal masih belum optimal. Dengan demikian, pemenuhan asset perbankan syariah minimal Rp 91,6 trilyun dalam rangka mencapai akselerasi pertumbuhan perbankan syariah sehingga mempunyai pangsa 5,25% pada akhir tahun 2008 memiliki tantangan yang cukup berat. Namun demikian, prospek perbankan syariah, sebagai bagian dari aplikasi ekonomi syariah, sebenarnya cukup menjanjikan di masa depan. Hal itu, disebabkan adanya kesadaran sebagian masyarakat, terutama yang berpendidikan tinggi untuk menjalankan kehidupan sosial ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Namun kondisi tersebut harus diantisipasi dengan kesiapan sarana dan prasarana guna mendukung berkembangnya sistem perekonomian syariah secara optimal di masa depan. Sarana dan prasarana tersebut, tidak hanya bersifat material, tetapi juga non material. Di samping itu diperlukan pula pengembangan sistem pendidikan yang mengakomodasikan kebutuhan tersebut, sehingga tercipta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam membangun dan mengembangkan ekonomi syariah di masa depan. Apabila hal tersebut tidak diantisipasi dengan baik, maka akselerasi perbankan syariah akan kehilangan momentum.

Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s