Pedagang kaki lima… Kasihan dech loe!

Oleh: Farizal

Ironi… di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, atau kalau kata grup musik Koes Plus “bukan lautan hanya kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” kita seperti menjadi budak di negeri sendiri. Sudah lebih dari setengah abad kita merdeka, tapi masih banyak penduduk kita yang miskin, kelaparan di mana-mana, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek berebut antri sembako. Apakah ini wajar terjadi bagi negeri khatulistiwa yang dikaruniai oleh Allah kekayaan alam yang luar biasa? Hampir tiap hari juga kita melihat terjadi keributan antara sesama anak bangsa. Kita sering menyaksikan mahasiswa bentrok dengan polisi, para buruh berdemonstrasi menekan perusahaan yang telah mem-PHK (baca: pecat) beberapa pegawainya, terjadi penggusuran rumah-rumah semi permanen orang miskin hingga bentrokan antara pedagang kaki lima dengan para aparat ketertiban. Hmm… memang serba salah, si aparat hanya menjalankan perintah atasan, sedangkan si miskin/pedagang? Yah… cuma berusaha mencari kehidupan yang layak dengan cara halal. Ya.. yang kalah akhirnya kaum cilik lagi. Padahal di tempat yang berbeda banyak pengusaha konglomerat yang sudah nunggak bayak pajak bertahun-tahun, tapi mereka santai-santai aja. Duduk dengan nyaman di kursi empuk sambil menikmati sarapan pagi tanpa ada seorang pun petugas pamong praja yang mengejar-ngejarnya sambil bawa pentungan. Hmm… ironi memang.

Pedagang Kaki lima, riwayatmu kini

Memang tidak semua orang dilahirkan dalam keadaan berkecukupan. Pasti ada di antara kita yang kurang beruntung. Itu memang sudah sunatullah. Kalau semua orang dilahirkan dalam keadaan kaya raya pasti tidak ada yang namanya ”orang kaya”. Lho koq? Iya dong! Lha semua orang punya harta yang sama, tidak ada yang kelebihan atau kekurangan jadi tidak ada yang melegitimasi orang kaya sebagai ”orang kaya”, karena semuanya sama. Nah… Dengan adanya orang miskin maka orang kaya bisa melegitimasi dirinya sebagai ”orang kaya”. Selain itu juga si kaya dengan kekayaannya mempunyai sarana untuk menuai pahala kebaikan dengan membantu si miskin.

Si miskin dengan hidup dalam keadaan pas-pasan, semangat dan niat baik berusaha mewujudkan kehidupannya yang layak dengan cara yang halal, salah satunya dengan berdagang. Karena modal yang terbatas, yah.. akhirnya ada yang jualan rokok sambil keliling di jalan raya atau kereta api, ada yang jualan koran di perempatan jalan, yang punya modal agak besar buka usaha menggunakan gerobak, ada juga yang membuka lapak atau kios alakadarnya. Intinya, bagaimana mereka bisa menyambung hidup dengan cara halal tanpa merampok, mencopet, malak, bermain judi apalagi korupsi.

Ada juga Janda beranak satu yang ditinggal mati suaminya. Dengan susah payah berusaha membesarkan anaknya dengan menjual barang dari door to door, antar teman, dan sebagainya. Keuntungannya pun tidak seberapa, bisa mencukupi makan dan membayar sekolah anaknya saja sudah syukur alhamdulillah. Menangisi takdir pun rasanya sudah tidak sanggup. Disamping air mata yang mengering, toh hidup harus jalan terus, mana mungkin bisa hidup hanya dengan menangis. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Kira-kira begitu kata Al Qur’an. Anakpun perlu makan, perlu sandang, perlu sekolah biar tidak bodoh.

Golongan kecil seperti ini memang banyak di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang. Populasinya mencapai sekitar 48,39 juta unit atau 99,85% dari keseluruhan pelaku bisnis di Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 42,33 juta usaha kecil dengan pertumbuhan 9,46% atau 3,15% per tahun dan usaha agak besar (menengah) sebanyak 61.986 dengan pertumbuhan 13,46% atau 4,46% per tahun. Di samping itu, hal penting yang perlu dicatat adalah orang-orang seperti ini memberikan kontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu 99,4% dan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp. 1.013,5 triliun atau 56,73%.[1]

Akan tetapi, sekali lagi sungguh ironis (baca: kasihan). seperti kena stroke bagi sebagian dari mereka ketika melihat lapak/tempat satu-satunya harapan untuk mengais rezeki halal yang tidak seberapa itu dibubarkan, runtuh bersama puing-puing penyangga kehidupan. Kepentingan mereka dikalahkan atas nama kepentingan taman alias kepentingan tumbuhan. Bukankah Allah SWT memerintahkan malaikat, jin, iblis dan setan, dkk-nya untuk bersujud kepada manusia? Bukankah hewan dan tumbuhan memang diperuntukkan bagi manusia? Bukankah manusia berhak hidup dan menyambung kehidupan?

Padahal Mereka bukanlah kriminal, mereka bukanlah teroris yang mem-bom public place, mereka bukanlah seperti pengusaha kakap yang canggih melarikan modal ke luar negeri, mereka bukan juga para koruptor yang lebih sadis dari pembunuh berdarah dingin. Mereka hanya manusia-manusia yang mempunyai cita-cita sederhana yaitu memenuhi basic needs-nya Maslow. Peranan mereka sangat terlihat dalam mencegah Indonesia semakin terpuruk gara-gara krisis moneter. Lha iya lha… mereka tidak mengenal apa itu mainan valas, tidak juga menggunakan tarif dollar, terus koq diusir yah?

Apa Solusinya?

Eumm… memang pemerintah, baik itu para eksekutor (pamong praja, aparat, dkk) juga pengambil kebijakan di tingkatan atas, dalam hal ini juga tidak patut disalahkan. Sesuai dengan hadist nabi, “kebersihan itu bagian dari iman” juga hadis yang berbunyi “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Mungkin atas dalil itu pemerintah berusaha menciptakan keindahan kota. Keindahan kota dan kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua. Ironis memang… Di satu sisi para pedagang kaki lima ingin memenuhi kebutuhan hidup mereka, tapi di sisi yang lain terkadang mereka juga merugikan orang lain. Misalnya saja berjualan di badan jalan yang bisa menimbulkan kemacetan. Terus solusinya? Bangun tempat jualan? Sudah! Tapi dimana? Apakah konsumen mudah buat mengaksesnya? Apa biaya sewanya bisa ditutup dari keuntungannya? Ini perlu juga dipikirkan.

Contoh yang bisa kita ambil adalah penggusuran “barito”. Pemerintah dalam hal ini memang sudah menyiapkan lahan untuk mereka berjualan, tapi ditolak dengan alasan lokasinya tidak strategis. Mungkin alasan itu bisa diterima, tapi yakin 1-2 bulan ke depan jika para pedagang bertahan di tempat baru tersebut pasti lambat laun pembeli juga akan datang ke tempat yang baru tersebut. Mungkin memang perlu sedikit waktu dan pengorbanan.

Selain itu hal yang paling penting adalah bagaimana membayar biaya sewa-nya tadi. Setelah pemerintah mempersiapkan tempat yang layak dan nyaman dalam arti kriterianya memenuhi tuntutan para pedagang kaki lima. Setelah itu mungkin biaya sewa/beli-nya dapat diangsur dengan harga yang murah tanpa di kenakan bunga. Tapi biasanya pemerintah enggan melakukan hal demikian. Pemerintah cenderung mengandeng “partner-partner” rakus yang tidak memihak kepentingan rakyat kecil. Di sinilah diperlukan peran lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah dalam hal ini BMT dan BPRS hendaknya meyakinkan pemerintah dan aparatur negara yang berwenang terhadap permasalahan ini untuk menjadi partner mereka dalam hal sewa dan jual beli lahan dagang untuk pedangan kaki lima. Selain itu, BMT dan BPRS juga memainkan perannya sebagai pendamping bisnis dan penyalur modal kepada para pedagang tersebut agar usahanya bisa berkembang dan maju.

Melalui linkage program yang merupakan solusi dari bank syariah mempermudah untuk menjangkau pedagang-pedagang kecil di sektor riil melalui tangan-tangan BMT dan BPRS, maka BMT dan BPRS memiliki dana yang cukup besar untuk meningkatkan pertumbuhan para pedagang kecil tersebut dengan syarat dukungan program pembentukan pola penjaminan dan pendampingan kepada mereka agar lebih optimal lagi dalam usahanya. Kalau semua itu telah siap dengan matang, baru dech pelan-pelan penggusuran dari tempat-tempat yang katanya mau dibuat taman atau mall atau apa saja, bisa dilakukan oleh aparat. Hmm… rasanya kalau sudah begini tidak bakal ada lagi bentrok fisik dan penggusuran terhadap bangsa sendiri. Win win solution lah…


[1] Data BPS tahun 2003 dari Kasubid Evaluasi dan Pelaporan serta Peneliti pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s