PENERAPAN SUKUK MASIH DI BAWAH TARGET

Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk perdana berhasil menyerap dana dana sebesar Rp 4,699 triliun. Angka tersebut lebih rendah dari target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 5 triliun. Namun penerbitan sukuk perdana itu dinilai sukses besar karena terjadi permintaan atau over-subscription 1,6 kali. Hal itu dilihat dari besarnya total permintaan sukuk yang mencapai Rp 8,070 triliun.

Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Rahmat Waluyanto menyatakan, pemerintah menerbitkan dua seri Sukuk yakni, Ijarah Fixed Rate (IFR) 0001 dengan tenor tujuh  tahun dan IFR 0002 dengan tenor sepuluh  tahun. Jumlah penawaran yang masuk untuk IFR 0001 adalah Rp 4,839 triliun, sedangkan jumlah yang dimenangkan hanya Rp 2,714 triliun. Sementara untuk IFR 0002, jumlah penawaran yang masuk Rp 3,231 triliun. Dari jumlah itu, yang dimenangkan hanya Rp 1,985 triliun.

Adapun yield tertinggi yang masuk untuk IFR 001 adalah 13,5 persen, sementara itu yield tertinggi untuk IFR 0002 adalah 12,75 persen. Yield yang dimenangkan untuk IFR 001 adalah 11,8 persen. Untuk IFR 002, yield yang dimenangkan 11,95 persen. Yield sukuk negara ini relatif rendah dibandingkan yield obligasi negara konvensional yang saat ini di atas 12 persen untuk tenor 10 tahun

Rahmat menjelaskan, dari total penawaran yang masuk, porsi permintaan dari investor domestik cukup tinggi mencapai Rp 7,1 triliun atau 88 persen dari total permintaan.  ”Bahkan, ada investor individu yang menyampaikan penawaran juga, mereka tak sabar tunggu penerbitan sukuk negara ritel,” ujar Rahmat dalam keterangan persnya di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (26/8).

Menurut Rahmat, partisipasi perbankan syariah dalam penyerapan  sukuk negara masih relatif rendah. Ini telihat dari penyerapan yang hanya  9,66 saja dari porsi penerbitan sukuk negara. Untuk IFR 001, bank syariah hanya menginvestasikan dana sebesar Rp 560 miliar, sedangkan untuk IFR 002, hanya Rp 220 miliar. Sehingga totalnya hanya Rp 780 miliar.

Sementara itu, porsi kepemilikan sukuk negara terbesar berasal dari Asuransi mencapai Rp2,4 triliun (29,8 persen),  perbankan konvensional Rp 2,1 triliun (27,01 persen), dan lembaga keuangan lainnya Rp 1,9 triliun (24,16 persen).

Rahmat menjelaskan, imbalan sukuk yang digulirkan Depkeu adalah 11,80 persen dan 11,95 persen. Nilai imbalan tersebut, menurutnya, mengacu pada  yield obligasi negara dengan tenor yang sama. Rahmat mengatakan, jika nilai imbalan tersebut tidak sesuai dengan permintaan sejumlah investor, hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi..  ”Kami tidak ingin pasar obligasi yang lain jatuh bila imbalan sukuk terlalu tinggi,” ujarnya.

republika.co. id

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di pasar modal, Perbankan Syariah dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke PENERAPAN SUKUK MASIH DI BAWAH TARGET

  1. echo99 berkata:

    Jadi masih dijual sebagai ke korporasi ya, belum ke ritel kayak ORI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s