Menyamakan Persepsi Tentang Kehadiran Bank Syariah

Rabu, 24 September 2008
Oleh : Nibrasul Huda
Selama
ini banyak masyarakat Indonesia yang masih bertanya-tanya tentang
perbedaan Bank konvensional dan Bank Syariah. Kebetulan dalam bulan
Ramadhan ini setiap paginya pukul 4 dini hari salah satu stasiun TV
swasta mengadakan suatu program yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi
syariah, yang dipandu oleh Syakir Sula, seorang pakar marketing syariah di Indonesia.
Namun sayangnya ada suatu persepsi yang salah mengenai
bank syariah yang di katakan oleh kalangan perbankan dan salah satu
manager pengembangan produk disalah satu bank syariah pada suatu acara
di TV swasta tersebut, yang mengatakan bahwa sesungguh
bank syariah itu sama dengan bank konvensional yang langsung di amini
oleh Syakir Sula dengan mengatakan bahwa–kira kira berbunyi seperti
ini: “bank syariah sama dengan bank konvensional bedanya hanya di syahadatkan saja”.
Pernyataan
yang ditonton oleh pemirsa TV yang mayoritas Muslim tersebut sangat
mencengangkan buat sebagian orang. Perlu di garis bawahi disini,
pernyataan seperti itu sangat mendiskreditkan bank syariah secara
khusus, dan ekonomi syariah secara umum. Mengapa demikian? Pertama, karena sebagai pakar marketing syariah Syakir Sula seharusnya tidak memberi komentar yang bisa membuat masyarakat ragu
dan enggan untuk bertransaksi di bank syariah. Jadi interpretasi dari
bank syariah adalah bank konvensional yang disyahadatkan adalah tidak
tepat, karena tidak jelas apa maksudnya dan satu kesalahan fatal
kalimat seperti itu di ucakan oleh seorang pakar marketing syariah.
Kedua, seperti yang dikatakan oleh Prof. Malik Al-Awan, Ibadah dan Fiqh Muamalah tidak bisa dan tidak boleh dicampuradukan. Karena dalam beribadah kita
tidak boleh berkreasi, berinovasi dan memodifikasi cara-cara dan aturan
tertentu dalam menjalankan Ibadah. Menurut Tolha Hasan, untuk urusan
Ibadah, taqlid ( mengikuti apa yang dilakukan orang-orang
terdahulu) saja. Contohnya: dalam beribadah kita dilarang untuk
mengurangi atau menambah atau memodifikasi, jumlah raka’at dan
aturan-aturan dalam shalat, karena semua sudah ditentukan. Sementara
itu kalau mengenai ekonomi syariah atau fiqh muamalah tidak semua orang mengerti dan mengetahui dengan jelas prinsip–prinsip syariahnya. Namun di dalam fiqh muamalah kita seharusnya tidak hanya ikut-ikutan, kalau ada bank konvensional mempunyai produk A, B , C bank syariah biasanya juga taqlid saja, alias ikut ikutan saja punya produk yang sama dengan ditambah
embel-embel nama syariah atau sedikit dikasih istilah berbahasa arab
biar kelihatan cocok di mata nasabah. Padahal pada transaksi ekonomi
syariah ada fleksibilitas dan kebebasan untuk berkreasi dan berinovasi,
sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip syariah yang sudah ditentukan.
Ketiga,
bagaimana mungkin juga seorang pakar marketing syariah setuju dengan
pernyataan dari kalangan perbankan syariah sendiri bahwa bank
konvensional dan bank syariah adalah sama. Kalau
sama kenapa ada undang-undang khusus mengenai bank syariah? Kenapa
diharuskan ada kata- kata syariah di samping nama banknya? Kenapa di
bentuk Dewan Pengawas Syariah?
Bank
konvensional dan Bank syariah sudah jelas mempunyai sistem yang
berbeda, kalau bank konvensional berdasarkan Riba (bunga), maka Bank
syariah justru menghindari yang namanya Riba atau Bunga. Kalau seorang
pakar marketing syariah tidak dapat membedakan hal ini, lalu bagaimana
beliau akan memasarkan dan mensosialisasikan konsep perbankan syariah?
Kalau dalam acara sosialisasi dan promosi konsep
perbankan syariah dimana seorang tenaga pemasarannya mengatakan bank
konvensional sama dengan bank syariah karena produk-produknya yang
sama, maka pernyataan seperti itu akan mematikan pangsa pasar perbankan
syariah itu sendiri.
Yang seharusnya dilakukan untuk mengembangkan produk-produk
Bank syariah adalah untuk menganalisa prinsip-prinsip syariah manakah
yang bisa di terapkan ke dalam sistem perbankan. Misalnya prinsip wadiah yad amanah yaitu titipan barang-barang berharga di mana pihak yang di titipkan
barang tersebut tidak boleh menggunakan atau memanfaatkan barang
titipan tersebut, dengan ketentuan seperti ini kita lihat dimana prinsip ini bisa
di terapkan dengan produk dari sistim perbankan? Kita lihat dulu
prinsipnya, dan rambu-rambu syariahnya, dan ternyata cocoknya buat safe
deposit box, atau kotak penyimpan barang berharga disistem perbankan
dimana bank tidak boleh memanfaatkan barang titipan nasabahnya, namun
bank diberi amanah untuk menjaganya.
Lalu ada prinsip syariah yang namanya wadiah yad dhamanah yaitu suatu titipan dengan garansi yang artinya, nasabah dapat
menitipkan uangnya di bank, dan bank berhak memanfaatkan dana nasabah
dengan jaminan dana tersebut akan dikembalikan kepada nasabah setelah
bank selesai memanfaatkannya sesuai dengan jumlah yang dimanfaatkan
oleh bank. Hal ini sama dengan nasabah yang memberi pinjaman tanpa
bunga atau qardhul hasan kepada Bank. Kalau bank mendapat keuntungan dan ingin membaginya dengan nasabah yang telah memberi pinjaman tanpa bunga, maka hal itu boleh dilakukan dengan jumlah bagi hasil yang sesuai dengan keputusan dari pihak pengelola bank dalam bentuk hibah atau hadiah, tanpa
di perjanjikan di muka. Nasabah tidak boleh mengklaim hak bagi hasilnya
atas penggunaan dananya tersebut. Lalu produk apa yang cocok untuk
prinsip wadiah yad dhamanah ini dalam sistim perbankan? Tentu
saja pada rekening koran dan tabungan. Pada kedua jenis tabungan ini
nasabah menitipkan dananya untuk di manfaatkan oleh bank tanpa
mengharapkan imbalan tetapi kalau bank berkeinginan untuk memberi bagi
hasilnya tentu nasabah tidak menolaknya, dan apa bila bank tidak
memberi bagi hasil maka nasabah pun tidak berhak untuk memintanya.
Untuk bankir syariah mari kita berpikir dan memutar mind set kita dari perbankan konvensional ke perbankan syariah dengan pola pikir yang baru
yaitu bagaimana dan dengan produk perbankan seperti apa prinsip-prinsip
syariah itu dapat di terapkan dan dikembangkan. Jangan hanya berpikir
untuk meniru produk-produk bank-bank konvensional, seperti: ok produk
bank konvensional ini kelihatan bagus dan menguntungkan lalu kita akan
terapkan prinsip syariah yang mana? Bukan begitu caranya. Harus di balik, misalnya prinsip syariah hawalah bisa
diterapkan ke dalam produk perbankan yang mana? Hawalah adalah
pengalihan hutang dari seorang debitor dimana kreditor akan menagih
hutangnya kepada pihak lain yang bersedia membayarkan hutangnya.
Prinsip hawalah ini cocoknya pada transaksi check dan giro pada transaksi kliring, di mana seorang nasabah membayarkan kewajibannya kepada penerima dana dengan menuliskan check atau giro atau dengan cara transfer ke suatu bank
dimana bank penerima tersebut nantinya akan menagih pembayaran check
tersebut pada bank penerbit check sebagai pihak pembayar. Bagaimana
kalau ada prinsip ekonomi syariah yang tidak cocok dengan
produk perbankan manapun? Di sini saatnya kita perlu untuk menciptakan
suatu produk baru yang belum ada sebelumnya, dengan tetap memegang
teguh pada prinsip-prinsip syariah dengan menghindari tiga prinsip
pokoknya yaitu Maisir (judi atau spekulasi), gharar ( ketidak pastian/ uncertainty) dan Riba (bunga bank/interest) .
Sekarang,
mari kita samakan persepsi kita mengenai kehadiran bank syariah di
tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia. Pertanyaannya Mangapa Bank
syariah diciptakan? Jawabannya adalah: untuk menghindari transaksi yang
mengandung unsur-unsur maisir, gharar, riba (Maghrib), terutama Riba seperti firman Allah dalam surat Albaqarah, ayat 275 yang berbunyi :
“Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan Riba, tetapi Allah telah
menghalalkan jual-beli dan mengharamkan Riba”, Bank syariah juga diciptakan untuk
menjalankan prinsip-prinsip syariah yang berdasarkan kepercayaan,
(amanah) dan keadilan (adl), dengan menggunakan sistim jual-beli, bagi hasil dan kemitraan. Dengan demikian bank syariah tidak dapat disamakan oleh bank konvensional yang berdasarkan Riba karena karakter dari riba itu sendiri
adalah memberi keuntungan pada satu pihak dengan mengambil keuntungan
dari pihak lainnya atau membuat untung salah satu pihak dan membuat
rugi pada pihak yang lainnya, atau dengan kata lain transaksi yang
berdasarkan Riba itu tidak adil (unjust, kata orang Inggris).
Jadi kesimpulannya Bank syariah adalah bank yang menerapkan
prinsip-prinsip syariah yang berdasarkan amanah dan keadilan dengan
cara menghindari maisir, gharar dan riba, jadi bukan dari bank konvensional yang disyahadatkan.

http://www.pkesinte raktif.com/ content/view/ 2993/36/lang, en/

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menyamakan Persepsi Tentang Kehadiran Bank Syariah

  1. Dedi Wibowo berkata:

    Assalamu’alaikum WR.WB.
    Dalam menelaah sesuatu mestinya dilihat konteksnya secara utuh, dan itu dapat ditanyakan kepada pihak yang memproduksi tayangan tersebut. Dalam waktu yang terbatas, secara teknis memang memungkinkan untuk terjadi kesalahan. Oleh karena itu perlu dicek terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Dengan mengatakan kira-kira bunyinya begini…… . dst. itu saja menunjukkan penulis tidak menangkap secara persis pembicaraan. Oleh karena itu, kalau ada hal yang kurang berkenan, biasakan untuk tabayun dulu, dan mencek ke sumbernya langsung. Dengan demikian kita tidak terjebak pada opini yang dibangun atas data dan fakta yang tidak benar. Saya sarankan kepada penulis untuk bertanya dan mengklarifikasi sebelum beropini dan menyebarkannya pada khalayak ramai. Kalau ternyata sdr Sakir Sula atau bagian editing salah, bisa segera di klarifikasi. Itu lebih bijak. Apakah tokoh tidak boleh salah? Sekali lagi, mari kita saling mengingatkan dalam kebenaran dengan cara yang benar. Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir dan bathin atas segala salah dan khilaf.
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s