STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF PERBANKAN SYARIAH KEPADA MASYARAKAT UNTUK MENDUKUNG TARGET MARKETSHARE 5,25%[1]

Oleh: Farizal[2]

Makin maraknya lembaga keuangan syariah sebagai salah satu perangkat pendukung dalam penerapan syariat, yakni dalam bidang ekonomi, menjadikan sebagian harapan kecil umat Islam telah terwujud. Hal ini tentunya tidak menjadikan umat Islam berhenti berjuang begitu saja dalam menerapkan syariat di segala aspek kehidupan, yang tidak mengenal batas ruang dan waktu.

Terkait dengan lembaga keuangan syariah di Indonesia, memang dalam perkembangannya diwarnai oleh perbankan syariah. Diawali dengan berdirinya BPRS[3] kemudian beroperasinya PT Bank Muamalat Indonesia[4] yang menjadi bank umum pertama yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah, hingga tujuh tahun kemudian diikuti kemunculan Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah pertama milik pemerintah dan bank-bank lain yang tak ingin ketinggalan membuka unit usaha syariah[5].

Kesemarakan perkembangan perbankan syariah nasional juga diikuti dengan perkembangan lembaga keuangan di luar sektor perbankan. Pada industri asuransi, kita dapat menyaksikan kehadiran beberapa lembaga asuransi yang menyusul PT Syarikat Takaful Indonesia sebagai asuransi syariah pertama. Beberapa lembaga asuransi tersebut antara lain asuransi Syariah Mubarakah, divisi Syariah Great Eastern life insurance, divisi Syariah MAA Insurance dan beberapa divisi syariah lainnya. Perkembangan yang menggembirakan juga terjadi di pasar modal yaitu dengan hadirnya reksa dana syariah PT Danareksa dan Investment management syariah PT PNM (persero).

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa selama 15 tahun ekonomi syariah di Indonesia banyak dampak positif yang bisa dirasakan. Hal ini dikarenakan keunggulan prinsip yang dianut oleh sistem ekonomi syariah dapat mendukung tujuan pembangunan yang antara lain adalah kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial. Hal ini dapat dibuktikan di saat krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1998. ketika itu bunga simpanan mencapai 70% sedangkan bunga kredit maksimal yang bisa diberikan perbankan hanya 30 – 40%. Kondisi ini langsung memukul sebagian besar perusahaan dan rakyat yang memiliki pinjaman dan tidak memiliki simpanan uang sehingga yang kaya semakin kaya, sementara penderitaan yang miskin semakin bertambah. Selain itu, banyak bank yang dengan sistem ribawi baik yang bermodal besar ataupun kecil mengalami negative spread dan masuk dalam daftar penerima BLBI. Akan tetapi, hal ini tidak dialami oleh bank yang memakai sistem syariah.

Perbankan Syariah dan keunggulannya

Konsep perbankan Syariah diyakini dapat menjadi salah satu alternatif solusi penyelesaian krisis di Indonesia. Perbankan syariah tidak mengenal negatif spread, yang menjadi salah satu penyebab timbulnya krisis perbankan di tanah air di tahun 1998. Sistem perbankan syariah yang diterapkan secara benar akan terhindar dari buble economic, seperti yang saat ini terjadi perbankan konvensional. Hal ini disebabkan setiap transaksi di perbankan syariah harus memiliki asas manfaat dan tidak mengandung riba.

Melihat perkembangan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah di Indonesia, terdapat banyak peluang untuk memperbaiki kesejahteraan bangsa. Dengan sistemnya yang adil dengan nilai-nilai moral dan ditambah dengan bukti-bukti yang ada serta diperkuat dengan potensi sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya sistem ini bisa jadi solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa.

Selain itu, Bank Indonesia sebagai pemegang kebijakan moneter dan para stakeholder yang terlibat di dalamnya juga yakin bahwa pengembangan bank syariah mempunyai prospek yang cukup tinggi. Hal tersebut diyakini karena peluang yang besar dan dapat dilihat dari kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ ekonomi, seperti sistem pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Di samping itu dilakukan juga pengembangan instrumen keuangan syariah yang diharapkan akan semakin menarik investor/pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri Perbankan Syariah dan potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah..

Bank Indonesia mempunyai keyakinan bahwa Bank Syariah akan terus berkembang pada tahun 2008 dengan pangsa sebesar 5,25%. Perkembangan tersebut diprediksi akan semakin besar pada tahun-tahun selanjutnya seiring berkembangya aplikasi-aplikasi ekonomi berbasiskan prinsip-prinsip syariah di Indonesia, seperti peraturan perundangan yang memberika ruang gerak terhadap lembaga-lembaga ekonomi syariah di Indonesia .

Keyakinan Bank Indonesia ini, diikuti dengan beberapa rencana corporate action yang akan dilakukan oleh beberapa bank dalam memenuhi akselerasi perkembangan perbankan Syariah di tahun 2008 ini, antara lain[6]:

1. Bank Rakyat Indonesia (BRI) akan mengakuisisi Bank Jasa Artha menjadi BUS (Bank Umum Syariah) dan spin off UUS (Unit Usaha Syariah) digabungkan ke dalam BUS baru dengan penambahan modal awal sebesar 500 miliar rupiah dari 1 triliun rupiah yang akan ditempatkan;

2. Bank Negara Indonesia (BNI) akan memperbesar UUS dengan menambah modal sebesar 300 miliar rupiah dan mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan BUS dengan dana sekitar 200 miliar rupiah, sehingga BNI akan memiliki dua bank syariah;

3. Bank Bukopin telah membeli saham dan aset kredit Bank Persyarikatan untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan tambahan dana sekitar 250 miliar rupiah;

4. Bank Panin mengakuisisi Bank Harfa untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar 200 miliar rupiah;

5. Bank Victoria Internasional mengakuisisi Bank Swaguna untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar 200 miliar rupiah;

6. Bank Central Asia (BCA) akan mengakuisisi 2 bank untuk dijadikan wealth management bank dan BUS (dengan dana sekitar 200 miliar rupiah);

7. Bank Jabar akan mengakuisisi sebuah bank yang selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar 500 miliar rupiah;

8. Beberapa BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang masih belum memiliki UUS segera membuka networking syariah;

9. Beberapa bank konvensional domestik maupun internasional akan membuka UUS, antara lain, Lippo Bank, Bank Century, NISP, BTPN, Standard Chartered Bank (SCB), ABN-Amro, Citibank, dll;

10. Beberapa Bank Syariah baik yang sudah eksis maupun yang segera berdiri akan mengembangkan wealth management berbasis syariah, seperti HSBC Amanah, SCB, Citibank, BII, dan BCA.

Strategi Komunikasi Kepada Masyarakat

Melihat keunggulan, peluang, prospek dan akselerasi perkembangan Perbankan Syariah di atas maka diperlukan sebuah komunikasi yang efektif sebagai alat “kampanye” kepada masyarakat dalam rangka memaksimalkan fungsi utama bank syariah, yaitu penghimpunan dan penyaluran dana untuk mengembangkan perbankan syariah itu sendiri. Memang, selama tiga tahun terakhir telah dilakukan upaya untuk mengkampanyekan ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah kepada masyarakat, misalnya dengan digelarnya event-event besar seperti Kampanye Nasional Ekonomi Syariah[7] (KAMNAS), Indonesia Sharia Expo[8] (ISE), Festival Ekonomi Syariah[9] (FES) dan event-event besar lainnya. Selain itu, muncul juga penayangan iklan-iklan perbankan syariah di media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional khususnya di bulan Ramadhan.

Namun apakah usaha kampanye tadi dapat meningkatkan marketshare sesuai dengan harapan Bank Indonesia dan stakeholder lainnya yaitu di akhir 2008 bisa mencapai 5,25%? Jika melihat statistik dari Januari 2007 sampai Januari 2008, peningkatan asset perbankan syariah tidak terlalu menggembirakan. Terlihat dalam gambar pada bulan Januari 2007 posisi asset berada pada angka 1,59% dan di Bulan Januari 2008 pada posisi 1,85%, artinya peningkatan aset perbankan syariah hanya sebesar 0,26%.

Jika dianalisa, strategi komunikasi yang selama ini dilakukan hanya bersifat momentum saja. Misalnya saja pelaksanaan ISE dan FES yang menghabiskan dana miliaran rupiah, namun komunikasi dan sosialisasi yang dilakukan hanya pada saat kegiatan berlangsung (5 hari) sedangkan selebihnya tidak ada. Contoh lain yaitu penayangan iklan-iklan perbankan syariah di media cetak maupun elektronik yang sebagian besar dilakukan ketika bulan ramadhan (30 hari). Yang menjadi pertanyaan apakah mungkin dalam waktu sesingkat itu mampu meningkatkan marketshare secara signifikan?

Dari hasil pengkajian Pusat Penelitian dan Studi Kebanksentralan,  yang dilakukan Bank Indonesia, terdapat tiga macam kategori nasabah perbankan di Indonesia. Ketiganya adalah nasabah  nasabah loyalis konvensional, loyalis syariah, dan menggambang.  Dari ketiga macam nasabah tersebut, nasabah mengambang memiliki jumlah terbesar sekitar 80 %. Artinya, jika ingin  membesarkan marketshare bank syariah, sasaran yang harus dibidik adalah mengkampanyekan perbankan syariah kepada nasabah yang mengambang tersebut.

Oleh karena itu harus ada strategi komunikasi yang lebih efektif terhadap nasabah mengambang tersebut. Salah satu strategi komunikasi yang bisa diterapkan adalah mengambil pelajaran dari cara kampanye calon kepala daerah. Seorang calon kepala daerah akan menggunakan berbagai macam media komunikasi yang bisa mempopulerkan namanya, mengkomunikasikan dan meyakinkan kelebihan-kelebihan nya kepada masyarakat agar masyarakat yakin dan memilih sang calon kepala daerah tersebut di hari pemilihan tiba.

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh Bank Syariah. Bank syariah perlu melakukan kampanye melalui beberapa media komunikasi yang tersedia seperti surat kabar, iklan radio, iklan televisi, penyebaran poster ke lokasi-lokasi strategis, pembuatan souvener, sosialisasi langsung ke masyarakat secara berkelanjutan dan cara-cara kampanye lain yang biasa dilakukan calon kepala daerah, agar nasabah mengambang mau memilih bank syariah sebagai tempat untuk bertransaksi, baik menyimpan dana, melakukan pembiayaan ataupun transaksi lainnya. Selain itu, Perbankan Syariah perlu menerapkan strategi komunikasi yang lebih menonjolkan keunggulan produk dan layanan, tidak hanya mempromosikan soal halal dan haramnya produk[10].

Memang secara teknis strategi komunikasi tersebut akan berat terealisasi jika hanya dilakukan oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Bank-bank Syariah saja, oleh karena itu diperlukan sinergisitas asosiasi-asosiasi ekonomi syariah yang sudah terbentuk. Misalnya, di tataran praktisi ada asosiasi-asosiasi seperti MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), ASBISINDO (Asosiasi Bank Syariah Indonesia), ASBINDO (Asosiasi BMT Indonesia), AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia). Sedangkan di wilayah akademisi ada IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam), AAKSI (Asosiasi Akuntansi Syariah Indonesia), FoSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) dan asosiasi-asosiasi lainnya yang berfungsi sebagai ‘kader’ untuk mengkampanyekan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah.

Dengan dilakukannya cara kampanye seperti itu secara berkesinambungan dan terus menerus, bukan tidak mungkin nasabah yang mengambang tadi sebagian besar akan beralih ke bank syariah dan target marketshare 5,25% yang dicanangkan BI bisa tercapai. Selain itu, bukan tidak mungkin peranan perbankan syariah terhadap perekonomian Indonesia menjadi lebih optimal dan mampu menjadi solusi dari permasalahan- permasalahan yang ada.


DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an & Hadist

Amidhan. Makalah Seminar ASBISINDO ISE 2007 “Tantangan Perbankan Syariah Menghadapi Era Global” Jakarta 25 Oktober 2007.

Bank Indonesia. Statistik Perbankan Syariah. Jakarta: Februari 2008.

Gamal, Merza. “Tantangan Perguruan Tinggi dalam menyediakan Ahli Ekonomi Syariah” artikel dalam buletin nasional FoSSEI edisi II/desember/ 2007.

Hamidi, M. Luthfi. Jejak-jejak Ekonomi Syariah. Jakarta: Senayan Abadi Publishing. 2003.

Qardhawi, Yusuf. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Jakarta: Robbani Press. 2001.

Sakti, Ali. Ekonomi Islam Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Modern. Jakarta: Aqsa Publishing. 2007

Wijaya, Alfi. Perbankan Syariah 2008: Evaluasi, Trend, Dan Proyeksi. Jakarta: Artikel KBC. Januari 2008

Artikel Republika. Saatnya Promosikan Keunggulan Bank Syariah. Jakarta: Edisi 24 Maret 2008


[1] Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti LKTEI yang di selenggarakan Islamic Economic Forum (IsEF) SEBI April-Mei 2008

[2] Mahasiswa STEI SEBI Jurusan Akuntansi Syariah Angkatan 2004

[3] BPRS pertama yang bediri yaitu PT BPRS Berkah Amal Sejahtera dan PT BPRS Dana Mardhatillah pada tanggal 19 Agustus 1991 di Bandung, disusul PT BPRS Amanah Rabbaniyah pada tanggal 24 Oktober 1991. Kemudian berdiri lagi PT BPRS Hareukat di NAD tanggal 10 November 1991.

[4] 1 Mei 2002

[5] Saat ini tercatat ada 3 Bank Umum Syariah, 28 bank konvensional yang membuka Unit Usaha syariah dan 117 BPRS (Statistik Perbankan Syariah, Februari 2008)

[6] Merza Gamal. “Tantangan Perguruan Tinggi dalam menyediakan Ahli Ekonomi Syariah” Buletin FoSSEI Edisi Desember 2007

[7] Diselenggarakan tiap tahun di Bulan Mei Oleh FoSSEI mulai tahun 2005 di seluruh Indonesia dalam bentuk seminar nasional, talkshow, training da’i dan mubaligh, workshop kurikulum guru dan diskusi pelajar dan mahasiswa.

[8] Diselenggarakan oleh MES pada Bulan Maret 2006 dan Oktober 2007 di JCC Jakarta dalam bentuk expo dan seminar

[9] Diselenggarakan oleb DPbS Bank Indonesia pada Bulan Februari 2008 di JCC Jakarta dalam bentuk expo dan seminar

[10] Ascarya, dalam artikel di harian Republika “Saatnya Promosikan Keunggulan Bank Syariah”. Edisi 24 Maret 2008

FARIZAL ALBONCELLI
Ajari Aku ‘tuk jadi MUJAHID TANGGUH
http://alboncelli. blogs.friendster .com/
Mobile : +62856 9171 4916
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam ‘SEBI’ Ciputat

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah. Tandai permalink.

2 Balasan ke STRATEGI KOMUNIKASI EFEKTIF PERBANKAN SYARIAH KEPADA MASYARAKAT UNTUK MENDUKUNG TARGET MARKETSHARE 5,25%[1]

  1. yustisiana dewi berkata:

    aq download ya

  2. Neng berkata:

    silakan mbak….semoga bermanfaat….!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s