US Financial Crisis: Korban Baru!

yahoo news

Washington Mutual Inc was closed by the U.S. government in by far the largest failure of a U.S. bank, and its banking assets were sold to JPMorgan Chase & Co for $1.9 billion.

Thursday’s seizure and sale is the latest historic step in U.S. government attempts to clean up a banking industry littered with toxic mortgage debt. Negotiations over a $700 billion bailout of the entire financial system stalled in Washington on Thursday…

…The bailout exceeds total lending by the International Monetary Fund since its inception after World War II. The IMF has loaned $506.7 billion since 1947 to countries in crisis as far flung as Argentina, Britain, Turkey and South Korea…

Coba tebak apa lagi yang akan terjadi! Perusahaan manalagi yang akan menjadi korban? 

Salah satu topik berita visual yang tersaji di CNN adalah “Bubble Watch is needed”. Judul ini memberikan beberapa interpretasi yang mungkin penting untuk direnungkan. Pertama, judul itu menyiratkan bahwa bubble dalam ekonomi khususnya yang terjadi di industri keuangan menjadi sebuah kelumrahan sistem. Kedua, diperlukan infrastruktur atau instrumen kebijakan ekonomi yang sifatnya permanen untuk mengidentifikasi kemunculan bubble dan melakukan treatments terhadap kondisi bubble. Akhirnya bubble dianggap tak beda dengan inflasi, sekedar fenomena wajar atau bahkan keniscayaan dalam ekonomi, meskipun implikasi negatif dari bubble berpuluh atau beratus kali lipat bagi perekonomian.

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke US Financial Crisis: Korban Baru!

  1. addin alfatih berkata:

    Sekedar berbagi terkait dengan ketidakpercayaan sebagain ekonom barat, bahwa bubble economic itu sebuah CACAT BAWAAN dari Kapitalisme. Mohon maaf bila kurang berkenan, tulisan lainnya bisa kita sharing kan di http://www.jurnal-ekonomi. org.
    Jika ingin menambahkan silakan saja ………..

    Hormat Kami,

    M. Sholahuddin
    Mobile : 0818 02502555
    Harry Shutt dalam bukunya, Runtuhnya Kapitalisme (2005), menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”. Misal: semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya krisis keuangan.

    Kesalahan ini bagaikan cacat bawaan yang melekat pada Kapitalisme sejak kelahirannya. Cacat ini sedemikan fatalnya sehingga yang diperlukan bukan lagi koreksi berupa pembaruan atau perbaikan pada lapisan kulitnya saja, namun perombakan total untuk membentuk sistem yang sama sekali baru (Jerry Mander dkk, 2004).

    Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan/ non-real) , bukan real based economy (ekonomi berbasis sektor real), Ekonomi Berbasis Uang Kertas (Fiat Money), Ekonomi Berbasis Utang, Ekonomi Berbasis Investasi Asing.

    Pertama, monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan/ non-real) . Artinya, Kapitalisme dominan bermain di level atas dari ekonomi real. Rente (keuntungan) ekonomi diperoleh bukan melalui kegiatan investasi produktif (produksi barang dan jasa), melainkan dalam investasi spekulatif melalui sektor non-real (keuangan); misalnya melalui kredit perbankan serta jual-beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, Kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

    Sistem ekonomi non-real ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan. Menurut The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius (Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar daripada jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).

    Dari aspek kredit bank juga dapat diketahui, bahwa kualitas aktiva produktif (kredit) di Amerika semakin lama semakin turun. Menurut data Moody’s Ratio of Credit Downgrades to Upgrades, terlihat bahwa kredit bank di Amerika semakin menurun sejak tahun 1995 hingga tahun 2003. Ini membuktikan, bahwa pola kredit perbankan berbasis bunga dapat membahayakan kelangsungan perbankan itu sendiri, dan pada akhirnya dapat membahayakan sektor real dan perekonomian secara umum (Harahap, 2003).

    Islam berbeda dengan Kapitalisme. Islam tidak mengakui keberadaan sektor non-real berbasis bunga, karena Islam telah mengharamkan riba, termasuk bunga (QS 2: 275). Dengan kata lain, dalam Islam, uang bukanlah komoditi yang karenanya mempunyai harga. Harga uang inilah yang dalam teori-teori Kapitalisme disebut bunga. Menurut buku UK Budget Red Books 1990, “Suku bunga merupakan harga dari uang dan kredit.” (El-Diwany, 2003). Uang dalam Islam hanyalah sebagai alat tukar saja, bukan sebagai komoditi sebagaimana dalam Kapitalisme.

    Dengan kata lain, ekonomi Islam adalah real based economy (ekonomi berbasis sektor real). Ini merupakan kebalikan total dari ekonomi Kapitalisme yang dibangun dengan monetary based economy. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah nyata (real) dalam produksi barang atau jasa.
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s