US Financial Crisis: Madzhab Baru Ekonomi Muncul?

Guncangan ekonomi akibat badai keuangan yang melanda Amerika merupakan guncangan yang terparah setelah Great Depresion pada tahun 1930. Di sela-sela gegap-gempita para regulator dalam meramu kebijakan, lawmakers dalam menimbang-nimbang legalisasi kebijakan, para akademisi kini kini mereka-reka bentuk baru ekonomi modern. Setiap turbulensi yang terjadi pada perekonomian selalunya menjadi data yang dapat digunakan dalam fine-tuning teori ekonomi. Atau bahkan jika turbulensinya teramat kuat, yang kemudian dapat dilakukan mungkin bukan sekedar fine-tuning, tetapi boleh jadi “wave shifting” atau perubahan wajah ekonomi melalui paradigma dan falsafah dasar sebuah madzhab ekonomi.

Great Depresion sebagai turbulensi dahsyat ekonomi di awal abad 20 telah membelah pemikiran (madzhab) ekonomi konvensional modern menjadi 2 madzhab besar, yaitu Klasik dan Keynesian. Meskipun pada perkembangannya kedua madzhab ini menelurkan sekte-sekte yang mencampurkan dua pemikiran besar tersebut. Akan tetapi kedua gerbong madzhab ini memiliki warna unik yang menjadi panduan para pengikut dan pengusungnya. Madzhab Klasik relative dikenali melalui keyakinannya pada kekuatan kompetisi pasar yang mampu menyeimbangkan perekonomian dalam jangka panjang. Jean Babtist Say terkenal dengan kalimatnya yang menggambarkan mekanisme ekonomi Klasik, yaitu “supply creates its own demand” (Say Law). Kebijakan ekonomi dari madzhab ini kental sekali dengan nuansa market mechanism.

Sementara itu, madzhab Keynesian memiliki kecenderungan yang sedikit berlawanan, dimana madzhab ini percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangannya (negara tidak dapat berlepas-tangan) . Keynesian tidak mempercayai waktu “jangka panjang” akan menentralisir setiap ekses dan anomaly ekonomi. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”. Kebijakan Keynesian lebih terlihat pada kebijakan diskresi negara dalam perekonomian. Namun begitu, kedua madzhab besar ini “menari” berdasarkan irama yang sama, yaitu irama Kapitalisme.

Dalam beberapa decade, setelah Breton Woods Agreement runtuh perekonomian dunia dalam pengembangannya terkesan lebih berpedoman pada madzhab Klasik (Neo-Klasik) . Hal ini terlihat dari kecenderungan perekonomian modern yang mengusung Globalisasi dengan program-program seperti WTO, freetrade zone, kebijakan liberalisasi dan privatisasi. Pengusung Klasik boleh berbangga dengan capaian itu semua, karena memang inspirasi utama dari fenomena itu adalah mereka.

Tetapi, bagaimana dengan saat ini? Dengan munculnya krisis keuangan Amerika, Klasik harus menyiapkan banyak amunisi justifikasi dari apa yang dianggap saat ini sebagai kontribusi Klasik dalam krisis di pusat keuangan dunia. Sebaliknya krisis ini memberikan angin baru bagi Keynesian, karena opsi satu-satunya yang dilihat oleh para otoritas adalah kebijakan intervensi. Keynesian mungkin seolah-olah bernostalgia pada era Great Depresion, dimana ketika itu krisis itulah yang membuat Keynesian muncul dan mampu dengan gagah memberikan solusi efektif bagi ekonomi untuk keluar dari jebakan under-consumption. Pertanyaannya apakah Keynesian mampu mengulang sejarah? Atau sesuatu yang baru akan muncul dalam ekonomi? Sesuatu yang kembali akan merubah wajah ekonomi. Kalaupun berubah apakah sekedar perubahan pada paradigma dan falsafah kebijakan saja, sementara iramanya masih menggunakan Kapitalisme? Atau sesuatu itu betul-betul menawarkan angin yang segar, sesuatu
yang baru, benar-benar baru dari filosofi, paradigma hingga aplikasi ekonomi. Jawaban dari setumpuk penasaran ini saya yakin akan kita temukan dalam waktu tidak terlalu lama.

Kembali pada topic diskusi diatas, walaupun begitu, saat ini kritisi kelemahan system keuangan tidak hanya focus pada paradigma pasar bebas (privatisasi) yang dominant dimiliki oleh Klasik, tetapi juga pada pondasi Kapitalisme, yaitu credit system dan prilaku serakah yang ter-legal-kan oleh Kapitalisme. Dengan credit system dan ciri prilaku spekulatif-nya, system keuangan konvensional modern dikritisi in nature memiliki fragility. Prilaku serakah pada gilirannya membuat kecenderungan- kecenderungan dimana fenomena dan kebijakan ekonomi kehilangan esensinya sebagai alat pengentasan masalah perekonomian. Dalihnya ekonomi semakin maju, tetapi masalah esensi ekonomi seperti kemiskinan, pengangguran atau bahkan kriminalitas ternyata semakin meningkat disekitar kita.

Sejauh ini suara para akademisi yang meneriakkan “something wrong with the system!” semakin menguat dan nyaring terdengar. Tidak heran semakin inovatif solusi yang coba ditawarkan oleh mereka. Jurnal-jurnal ilmiah mulai diwarnai dengan isu ini, setelah sekian lama media-media tersebut lebih banyak berdiskusi di ranah “microeconomics”. Mari kita perhatikan perkembangan- perkembangan selanjutnya, sembari juga terus berupaya, merenung, berdiskusi dan mencoba mewujudkan “sesuatu” untuk ekonomi yang lebih baik.

abiaqsa

ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah. Tandai permalink.

4 Balasan ke US Financial Crisis: Madzhab Baru Ekonomi Muncul?

  1. Neng berkata:

    Penyebab dari krisis ekonomi di AS adalah bubbling sektor finansial yang sama sekali tidak mempunyai akar di sektor real. Hal yang sama ketika krisis yang melanda asia, juga karena sektor finansial (nilai tukar mata uang). Semestinya syariah sanggup untuk masuk ke gelanggang dan tampil sebagai penyelamat keterpurukan ekonomi dunia. Hanya saja satu syarat haruslah terpenuhi jika dan hanya jika syariah tetap berada di maqomnya, yaitu sektor real. Ketika syariah “tergoda” untuk bermain pula di sektor finansial, setali tiga uang, syariah akan sama rapuhnya karena tidak memiliki landasan realnya.

    Mudah-mudahan syariah yang kita sedang perjuangkan ini syariah betulan. Islamnya Islam kaffah bukan Islam “KTP” doang … sehingga dengan fundamental yang ada padanya akan mampu menjadi pilihan satu-satunya keluar dari krisis.

    ebs
    “Eko Bs”
    from ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  2. Neng berkata:

    Penyebab dari krisis ekonomi di AS adalah bubbling sektor finansial yang sama sekali tidak mempunyai akar di sektor real. Hal yang sama ketika krisis yang melanda asia, juga karena sektor finansial (nilai tukar mata uang). Semestinya syariah sanggup untuk masuk ke gelanggang dan tampil sebagai penyelamat keterpurukan ekonomi dunia. Hanya saja satu syarat haruslah terpenuhi jika dan hanya jika syariah tetap berada di maqomnya, yaitu sektor real. Ketika syariah “tergoda” untuk bermain pula di sektor finansial, setali tiga uang, syariah akan sama rapuhnya karena tidak memiliki landasan realnya.

    Mudah-mudahan syariah yang kita sedang perjuangkan ini syariah betulan. Islamnya Islam kaffah bukan Islam “KTP” doang … sehingga dengan fundamental yang ada padanya akan mampu menjadi pilihan satu-satunya keluar dari krisis.

    ebs
    “Eko Bs” eko@fif.astra.co.id
    from ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  3. jaka ray berkata:

    bagaimana dengan ekonomi islam pak ali? apakah akan tetap menjadi penonton diluar arena pertandingan? ?

  4. ali sakti berkata:

    harapannya madzhab baru yang muncul dan mulai dilirik konsepsinya adalah Ekonomi Islam, walaupun tak penting namanya untuk saat ini. dalam jangka pendek diharapkan ekonom barat terinspirasi oleh mekanisme ekonomi yang digerakkan oleh produktifitas real dengan prilaku ekonomi yang lebih bermoral. arah itu sudah terlihat kok, didahului oleh artikel Rational Fool-nya Amartya Sen tahun 70-an. dan kini ada angin segar yang diusung oleh Joseph E Stiglitz (bahkan sudah ada yang menisbahkan madzhab tersendiri bagi pemikiran beliau, Stiglitzian! !). silakan baca buku beliau “towards a new paradigm of monetary system”, “Roaring Nineties” atau yang paling fenomenon “Globalization and its discontents” .

    Rational Fool menawarkan paradigma baru prilaku ekonomi yang mengedepankan Simpati dan Empati, meskipun pemikiran Sen ini “mandeg” karena tak ada tools yang practicable yang tersedia di ranah kapitalisme ingat memang Moral sudah ditendang jauh-jauh hari sebelum bangunan ekonomi kapitalisme sudah se-complicated seperti sekarang ini – lihat Principles of Economics-nya Marshall atau Ulasan Herbert Spencer terhadap tulisannya Adam Smith di Thoery of Moral Sentiment.

    sementara itu Stiglitzian mengusung isu kerancuan peradigma keseimbangan umum ekonomi, bubble economics, greedy behavior dan inkonsistensi dalam penerapan teori-teori ekonomi. (meskipun ini (isu stiglitz) menjadi sangat usang kalo kita lihat tulisan-tulisan yang sudah dikeluarkan oleh begawan kita Umer Chapra).

    akan muncul mekanisme-mekanisme ekonomi (dan memang harus kita upayakan untuk muncul) yang inspirasinya dari Islam. akan muncul mekanisme keuangan/perbankan yang mengedepankan risk sharing instead of risk transfer (interest rate concept), akan muncul pajak yang berkarakteristik zakat yang definitif penggunannya untuk apa (meskipun namanya tetap pajak). akan muncul teori-teori filantropis yang mengedepankan isu ramah lingkungan dan sosial dengan nilai-nilai ukhuwah dan tausiyah (meskipun menggunakan nama CSR dan Humanity). ini jangka pendek Pak.

    dalam jangka panjang, harapannya Islam akan tegak dengan wajah aslinya dengan semua bentuk dan dimensi baik di ekonomi, politik, hukum, budaya, dan lain-lain. tapi semua tergantung kesiapan jumlah manusia2 beriman (berilmu) dan sabar bukan?! seperti janji Allah di Al Baqarah: 10/20/100 kamu yang beriman dan sabar akan mengalahkan 100/200/1000 mereka yang Kafir.

    jadi mari kita wujudkan manusia2 itu dulu Pak Jaka, di kelas-kelas yang kita pegang, ditaklim-taklim yang kita ada didalamnya, di keluarga-keluarga yang memang menjadi amanah kita. kita wujudkan manusia yang cerdas secara akal, ruhiyah dan fisknya… meskipun boleh jadi kita bukanlah termasuk pasukan yang akan merasakan kemenangan nanti….

    finally, saya yakin Pak Jaka, disamping semua motor dakwah dalam gerbong ekonomi ini sedang berjalan membesarkan dirinya, diluar sana Allah sedang skenariokan pembersihan jalan bagi gerbong dakwah. tapi pembersihan tersebut pun sejatinya karena memang sistem raksasa didepan kita ini memang rapuh dan sudah sampai usianya.

    bismillah Pak
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s