Berhasilkah Bailout Memperpanjang Usia Kapitalisme? Sebuah Pembelajaran

Rontoknya beberapa lembaga keuangan besar di amerika ataupun di belahan bumi lainnya memang merupakan fenomena menarik untuk dicermati dan bahkan dikomentari. Mulai dari komentar berdasarkan analisa keuangan murni hingga bergeser ke analisa komparasi system keuangan dengan system keuangan Islam. Banyak pendapat telah terlontar dan diungkapkan untuk meramaikan diskursus yang telah tercipta. Komentar berikut anggaplah sebagai pelengkap dari berbagai komentar yang telah ada.

Fenomena selalu akan memberikan tadabbur (pelajaran) bagi sesiapa saja yang ingin merenungkannya, demikian metodologi Quran mengajarkan. Tadabbur atas fenomena keruntuhan beberapa lembaga keuangan raksasa tsb di atas setidaknya terdapat 2 (dua) hal yaitu :

1. Kemenangan dan kekalahan (termasuk kerugian bahkan kematian) yang dipergilirkan merupakan sunnatulllah sesuai QS 3 : 140 yaitu :

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…”

Apabila kemenangan dan kekalahan merupakan hal yang memang akan dipergilirkan maka keruntuhan beberapa lembaga keuangan raksasa dimaksud adalah hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Tidak ada yg istimewa atas fenomena itu. Beberapa komentar yang mencoba menganalisa dengan cara menghubung-hubungka nnya dengan system keuangan yang mendasarinya, merupakan hal yang sama sekali tidak dapat dibenarkan. Hal ini disebabkan komentar tersebut secara implicit telah menimbulkan persepsi seolah-olah lembaga keuangan yang menggunakan system Islam maka tidak mungkin akan mengalami kekalahan, kerugian bahkan keruntuhan. Suatu persepsi yang justru berlawanan dengan sunnatullah itu sendiri.

Untuk itu perlu kejernihan persepsi untuk memahami bahwa lembaga keuangan manapun dengan dasar apapun, tidak terkecuali, akan mengikuti sunnatullah yang telah digariskan yaitu mengalami pasang surut kemenangan dan kekalahan. Tidak peduli ia dimiliki oleh firaun ataupun kyai, maka ia sudah pasti akan terikat dengan sunnatullah yang merupakan ketetapan Tuhan pemilik alam raya semesta.

Kalaupun ada perbedaan, maka itu akan terlihat dari “gaya” jatuhnya atau “style” kematiannya. Ada yang berdebam keras dan ada pula yang “biasa-biasa” saja. Dalam Islam selanjutnya dikenal dengan istilah khusnul khotimah dan su’ul khotimah. Dalam perspektif keuangan, kajian style kematian lembaga keuangan di atas akan menjadi kajian penting untuk dilakukan oleh para ahli keuangan.

2. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat (hadits).

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Peribahasa ini adalah ungkapan popular yang paling mudah untuk dipahami disamping hadits di atas. Walaupun hadits di atas lebih ditujukan kepada manusia, namun keberadaan suatu lembaga keuangan juga dapat diukur kemanfaatannya, terlebih lagi lembaga tersebut juga dioperasionalkan oleh manusia.

Dalam transaksi keuangan Islami, termasuk yang dilakukan oleh sebuah lembaga keuangan, terdapat setidaknya 2 (dua) aspek yang diperhitngkan sebagai parameter kemanfaatan disamping 2 (dua) aspek lainnya : aspek moralitas & etika serta aspek halal haramnya objek transaksi. 2 aspek parameter yang diperhitungkan di atas adalah :

a. Masalah pemastian.

(1) Dalam transaksi keuangan modern fenomena pemastian direpresentasikan dalam bentuk maraknya industri utang piutang dan penggunaan instrumen bunga (interest). Praktik pemastian ini sudah barang tentu merupakan praktek yang bertentangan dengan sunnatullah pergiliran untung rugi, sehingga walaupun dari aspek keuangan telah memberikan manfaat sepihak bagi segelintir pemilik modal, namun secara sosiologi-psikologi s, praktek ini telah membutakan manusia atas kesadaran hidup yang semestinya yaitu dipergilirkannya kemenangan dan kekalahan. Dengan demikian, lembaga keuangan manapun yang justru mempraktekkan hal ini dapat dikatakan tidak memberikan manfaat apapun bagi kemanusiaan secara keseluruhan, kecuali keuntungan finansial dan itupun hanya untuk segelintir masyarakat tertentu.

(2) Praktek industri utang piutang dan bunga juga memberikan karma lanjutan yaitu meneguhkan serta menguatkan kesenjangan structural (social gap) yang ada di masyarakat. Pemilik modal akan terus dikuatkan konsentrasi modalnya tanpa terreduksi oleh resiko usaha yang merupakan konsekwensi natural dari sunnatullah pergiliran di atas. Dengan demikian lembaga keuangan manapun yang mempraktekkan fenomena ini hanya akan memberikan manfaat negatif berupa semakin panasnya atmosfer di masyarakat akibat semakin kuat dan semakin lebarnya kesenjangan social di masyarakat.

b. Masalah maysir.

Masalah maysir adalah masalah manfaat dalam transaksi keuangan dengan parameter berupa produktivitas. Masalah maysir sesungguhnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan aspek spekulatif atau untung-untungan. Transaksi di lembaga keuangan juga dapat diukur kemanfaatannya dari aspek maysir. Semakin produktif suatu transaksi keuangan yang dilakukan suatu lembaga keuangan, maka semakin besar pula manfaat keberadaan suatu lembaga keuangan, dan sebaliknya.

Kesimpulan :

Analisa keruntuhan dari lembaga-lembaga keuangan raksasa di amerika seyogyanya dicermati dari sudut pandang Tuhan (sunnatullah) . Dalam kaitan itu maka fenomena keruntuhan tersebut dapat dianalisa secara arif yaitu dengan tidak mempermasalahkan kejatuhannya yang sudah barang tentu merupakan bagian dari sunnatullah. Analisa yang lebih baik adalah dengan mencermati manfaat dari lembaga lembaga keuangan tersebut untuk masyarakat amerika dan lebih jauh untuk masyarakat dunia.

Bandung, 1 Syawal 1429

Bambang Himawan -> bhimawan@bi. go.id

Sumber: ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Keuangan, pasar modal dan tag , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Berhasilkah Bailout Memperpanjang Usia Kapitalisme? Sebuah Pembelajaran

  1. Rizqullah berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Sy ingin menanggapi pendapat sdr. Bambang Hermawan (BH) yang menurut hemat saya kurang tepat dan bisa berbahaya. BH mengatakan bahwa krisis keuangan yg saat ini terjadi di AS sebagai hal yg biasa atau bahkan dikatakan sunnatullah dengan merujuk kepada ayat Al Quran ttg kemenangan dan kekalahan yg dipergilirkan. menurut hemat saya, cara pandang seperti itu tidaklah tepat karena Islam sebagai suatu sistem nilai memiliki aturan yg komprehensif utk dipedomani oleh manusia didalam menjalankan hidup dan kehidupannya untuk mendapatkan falah (kebahagian didunia dan diakhirat). Ekonomi Islam sebagai sub-sistem dr sistem nilai ajaran islam tentunya tidak terlepas dr aturan islam secara keseluruhan. Krisis keuangan yg terjadi sekarang di AS dan juga sebelum2nya diberbagai negara termasuk Indonesia adalah akibat dari penerapan sistem kapitalis yg tidak sejalan dgn sistem nilai ajaran islam, seperti penggunaan instrumen bunga, kegiatan2 yg spekulatif, perilaku serakah, upaya pemuasan keinginan bersifat materi/duniawi, mendapatkan keuntungan atas kerugian pihak lain, yg didlm sistem kapitalis adalah sesuatu yg sah, tetapi tidak dibenarkan dlm islam dan jg ekonomi islam. Pergiliran antara kemenangan dan kekalahan sebagaimana ayat diatas seyogyanya dilihat dalam koridor pelaksanaan nilai-nilai islam, sementara penerapan bunga, kegiatan spekulatif, win-loose situation jelas2 merupakan penyimpangan dari nilai-nilai islam tersebut. Tentu saja sistem ekonomi islam juga hanya akan berhasil bila seluruh sistem nilainya dipenuhi oleh para pelaku ekonomi yg juga memiliki spirit dan etos kerja islami. Sayang sekali email sdr BH terputus sehingga saya tidak dapat mengulas dan menanggapinya secara utuh pula.
    sumber: ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  2. Bambang Himawan berkata:

    Alaikum salam……

    Terima kasih atas pendapat dan masukannya.
    Saya dapat memahami apa yang dimaksud bapak, namun demikian, menurut hemat saya, akan lebih berbahaya apabila semua wacana yang beredar akan menggiring pada suatu persepsi bahwa penggunaan system ekonomi Islam, tidak akan menuai kerugian dan bahkan kerontokan. Atau suatu lembaga keuangan syariah tidak akan pernah merugi atau bangkrut. Saya meyakini, persepsi tsb tidaklah sesuai dengan sunnatullah.
    Hemat saya, system ekonomi Islam lebih cenderung untuk lebih menjamin manfaat dan maslahat untuk kehidupan alam semesta, namun –sekali lagi- sama sekali tidak akan pernah menjamin untuk tidak mengalami kerugian bahkan kebangkrutan.
    Untuk itulah, saya berpendapat untul tidak silau dengan “kebangkrutannya”, namun tetaplah focus dengan kemanfaatannya.
    Adapun mengenai penyebab keruntuhannya, mari kita lebih berhati2 mencermatinya, sebab hal ini terkait dengan persepsi kita tentang banyak hal. Sebagai contoh : (seperti yg telah bapak singgung) konsep spekulatif itu tidak sama dengan konsep maysir. Ini baru satu hal. Banyak hal lain.
    Mudah2an di satu waktu mendatang, akan ada kesempatan untuk lebih menikmati diskusi ini.

    Wass

    Salam hangat.

  3. Adhi Ariea berkata:

    assalamu’alaikum wr wb

    sedikit mencoba menanggapi atas tulisan pak bambang ttg di pergilirkannya kemenangan dan kekalahan dlm kaitannya dg masalah ini saya kira perlu di cermati kembali.
    Bahwa dalam Al Qur’an tertuliskan “dipergilirkan” adalah benar akan tetapi tidak serta merta pergiliran itu terjadi ketika sesuatu itu sudah di atas atau mengalami kemenangan, sementara Allah swt juga berjanji akan meneguhkan kedudukan hambanya yang beriman.
    Sunnatullah dipergilirkan itu hanya akan terjadi ketika justru manusia menjauhi tata nilai dan ketaatan kepada Allah swtt jd tentunya ada faktor yg membuat “dipergilirkan” .
    Disisi lain manusia adl juga tempatnya salah,lalai, berkeluh kesah tp di sisi lain manusia juga adl hamba-Nya yg disayang manakala memiliki nilai ketakwaan kpd-Nya.
    Berkaitan dg ekonomi Islam, tata nilai yg terkandung di dalamnya membuat pelakunya terhindar dari moral hazard shg jika di lakukan dg sebaik2nya InsyaAllah akan terhindar dari kebangkrutan.
    Saya mencoba mengandaikan (wallahu’alam apakah sesuai) apakah jika ada orang senang bersedekah akan mengalami kebangkrutan? ? kemungkinan jawabannya ada, knapa?? krn bisa jadi menurut pandangan Allah swt ada nilai riya’ di dalamnya,tidak ikhlas sedekahnya.Sementar a dalam ekonomi sedekah itu bisa meningkatkan produktifitas kerja.

    Kesimpulannya adalah ekonomi yang di dasari oleh tata nilai syari’ah (Islam) cenderung atau mungkin pasti menjauhkan pelakunya dari kebangkrutan, jika memang terjadi coba di teliti kembali apakah kitanya sudah menjalankan tata nilai ekonomi syari’ah sesuai dg yg seharusnya

    Wallahu’alam bi shawab
    sumber: ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  4. Rizqullah berkata:

    Pak BH, forum milis ini justru dapat menghilangkan kekhawatiran Bpk. Kita hrs membedakan antara apa yg hrs dilaksanakan sebagaimana aturan dlm islam atau ek. Islam dgn apa yg sebenarnya dilaksanakan bahkan oleh orang islam sendiri. Setiap muslim tau kewajiban sholat 5 waktu, tetapi apakah ybs melaksanakannya atau tidak adl persoalan lain. Jadi ek. Islam hrs dilihat sbg sistem sebagaimana jg kita melihat kapitalisme sbg sistem. Kegiatan spekulatif seperti ‘short selling’ dipsr modal dimungkinkan dlm sistem kapitalis, tapi tidak dlm ek. islam krn islam melarang utk menjual sesuatu yg tdk dimiliki sebelumnya. Ternyata otoritas psr modal amerika, australia, eropa dll sbg negara2 penganut faham kapitalis melarang kegiatan short selling tsb krn ternyata menjadi penyebab hancurnya psr modal dan keuangan di negara2 tsb. Semoga apa yg sy sampaikan tsb dpt mencerahkan. Salam
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  5. Rizqullah berkata:

    Sy sependapat dgn pandangan Pak Adhi. Kita hrs hati2 menerapkan ayat2 al Quran supaya sesuai dgn konteknya. Salam

  6. Mulya Siregar berkata:

    Mas Adhi & teman2 MES ybh.,

    Saya ingin share sehubungan dengan e-mail yg diawali mas BH.

    Pada dasarnya yg mau disampaikan Mas BH, bahwa selama yg namanya kegiatan keuangan syariah adalah kita akui sebagai kegiatan bisnis, maka one day pasti dapat bangkrut/loss, kalau kita tidak mengakui hal ini berarti kita sudah mengingkari sejatinya sistem keuangan syariah yg berbasis profit and loss sharing, dimana kita bisa berbagi profit maupun juga loss.

    Dengan tata nilai yg terhindar dari moral hazard, tidaklah fair kita dapat mengatakan LKS akan terhindar dari kebangkrutan, bila kita pahami sepenuhnya sistem keuangan syariah yg very close dgn sektor riil dan kita ketahui yg namanya sektor riil dapat rugi juga bisa untung, maka lembaga keuangan syariah(LKS) harus siap berbagi untung dan rugi dgn sektor riil, maka sekalipun sistem LKS sudah prudent, seandainya governance nya sdh bagus, dan juga bila risk control system (RCS)nya ok, it doesn’t mean akan terbebas dari kerugian, sekali lagi saya ingatkan, bila kita meyakini bahwa LKS akan terbebas dari kerugian, maka sesungguhnya kita mengingkari sejatinya sistem keuangan syariah.

    Secara syariah kerugian merupakan cobaan bagi umatnya, untuk tawakal menghadapi hidup ini, semoga cobaan kerugian ini akan meningkatkan kadar keimanan kita.Disnilah lengkapnya sistem syariah, secara teori begitu seorang busineman mengalami kebangkrutan, sistem zakat akan menyelesaikan persoalan kebangrutan tersebut, shg bila sistem zakat telah terimplementasi dgn baik maka dalam harapan saya ketika terjadi kebangkrutan tidak perlu ada BLBI maupun bailout USD 700billion. Lagi2 saya ingatkan, bila LKS tidak akan bangkrut dan rugi, lalu buat apa ada nya sistem zakat dalam Islam??? Mhs, zakat inilah buffer dari sistem ekonomi syariah, shg pihak2 yg berbisnis tidak perlu takut untuk berbagi untung dan rugi.

    Belajar dari yg terjadi di Amerika saat ini, janganlah kita melihat sistem konvensional dari sisi kebangkrutan/ kerugian sistem tersebut dan membandingkan dengan sistem keuangan syariah (yg prudent, RCSnya ok, governancenya baik, yg link dengan sektor riil dll) lalu kita katakan LKS tidak akan bangkrut/rugi. Terus kita ber-koar2 dengan sistem keuangan syariah kita tidak akan mengalami kebangkrutan, o.k.i. pakailah sistem keuangan syariah, ini akan mislead, masyarakat akan memilih LKS dengan pemahaman yg keliru. Lebih baik kita melihat dari sisi kemanfaatannya bahwa bila sistem keuangan syariah dan sistem zakat diterapkan secara baik akan lebih tahan/baik menghadapi krisis maupun kebangkrutan/ kerugian dibandingkan sistem konvensional.

    Mohon maaf, bila saya ada salah2 kata.

    MESir
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  7. Bambang Himawan berkata:

    Alaikum salam….

    Justru di situ masalahnya….
    Kerugian itu pasti dipergilirkan….sunnatullah….

    Apa itu menyusahkan ? lha iya memang….tapi dalam rangka menguji keimanan manusia à jadi memang disengaja oleh Tuhan.

    Lalu apa bedanya ?
    Bedanya bukan terletak kejadian untung rugi yang sama2 akan dipergilirkan.
    Akan tetapi terletak dari manfaat (dan optimalnya) dari transaksi syariah tadi dibandingkan konvensional.
    Seperti halnya manusia taat dan manusia fasik…..

    Keduanya akan tetap meninggal dunia (tidak peduli dia kyai atau criminal) à persamaannya.
    Namun manusia taat akan memberikan manfaat optimal bagi kehidupan, manusia fasik akan memberikan mudlarat bagi kehidupan à perbedaannya.

    Mudah2an mas Adhi tambah faham.
    wass

  8. A. Aziz Setiawan berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Semakin menarik diskusinya…

    Saya ingin mencoba berfokus pada pernyataan Pak Bambang dalam posting sebelumnya yang menyatakan “akan lebih berbahaya apabila semua wacana yang beredar akan menggiring pada suatu persepsi bahwa penggunaan system ekonomi Islam, tidak akan menuai kerugian dan bahkan kerontokan”. Pernyataan ini kemudian ditanggapi temen2 yang lain.
    Kita mungkin perlu berdiskusi lebih ilmiah untuk menjawab permasalahan kemajuan dan kebangkrutan peradaban/bangsa bahkan juga sistem atau idiologi ini. Sejumlah intelektual, seperti Gibbon (w. 1208/1794), Spengler (1947), Schweitzer (1949), Sorokin (1951), Toynbee (1957), North (1973), Kennedy (1987), dan intelektual- intelektual yang lain di era modern banyak membahas masalah kemajuan dan keruntuhan peradaban.
    Menurut Dr Chapra (2000) meskipun analisa-analisa mereka itu memberikan informasi yang bermanfaat, tetapi model analisa Ibnu Khaldun tentang sosial-ekonomi dan dinamika politik sebagaimana dijabarkan dalam bukunya Muqaddimah, merupakan buku yang paling sesuai dalam menganalisa kemajuan dan kemunduran bagi ummat Islam. Sebab kitab tersebut memang dipersiapkan secara khusus bagi peradaban Islam, yang telah mengalami kemunduran pada masa hidupnya.
    Saya kira temen2 banyak yang sudah tahu, dan saya hanya ingin mengingatkan kembali, bahwa Ibnu Khaldun telah diakui sebagai raksasa intelektual muslim terkemuka di dunia. Pemikirannya, terutama dalam bidang ilmu peradaban (the science of civilization/al-‘umran), memberikan banyak inspirasi bagi pemikir Timur dan Barat. Beliau diakui telah telah melakukan analisis fenomena sosial kemasyarakatan lebih dari tiga Abad mendahului para pemikir sosiologi Barat modern. Muqaddimah sendiri sesungguhnya merupakan volume pertama dari tujuh volume karya besarnya, Kitab al ‘Ibar, atau judul lengkapnya Tarjuman al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam al-‘Arab wal Barbar wa man ‘Asharahum min Dzawis-Sulthan al-Akbar.
    Dari pandangan Ibnu Khaldun, untuk mencapai kejayaan atau kemajuan sebuah peradaban dibutuhkan penerapan “delapan prinsip kebijaksanaan (kalimat hikamiyyah)”. Konsep ini kemudian diformulasi oleh Dr. Chapra dalam bukunya The Future of Economics;an Islamic Prespective (2000; 145-241) menjadi ‘siklus rantai reaksi’ untuk melihat proses ‘kejayaan’ atau ‘kebangkrutan’ suatu bangsa.
    Dari “Kalimat hikamiyyah” Dr. Chapra membuat rumusan yang mencerminkan karakter interdisipliner dan dinamis dari analisis Ibnu Khaldun. Rumusan tersebut interdisipliner menghubungkan semua variabel-variabel sosial, ekonomi dan politik, mencakup Syari’ah (S), kekuasaan politik atau waazi’(G=government), masyarakat atau rijal (N=number of people), kekayaan atau sumber daya atau Maal (W=welfare), pembangunan atau imarah (g=development) dan keadilan atau ‘adl (j=justice). Variabel-variabel tersebut berada dalam satu lingkaran yang saling tergantung karena satu sama lain saling mempengaruhi. Di dalam analisa jangka panjang rumusan ini, tidak ada klausa ceteris paribus karena tidak ada satu variabel pun yang konstan.
    Maka dari sini jelas, untuk mencapai kejayaan atau kemakmuran serta menghindari kebangkrutan memang penerapan sistem ekonomi Islam harus dibarengi dengan pemerintah yang kuat, masyarakat yang memiliki keimanan yang tinggi, dan terjadinya proses pembangunan yang adil dan menjamin distribusi kekayaan. Tanpa didukung variabel lain tersebut, sistem ekonomi Islam juga akan mengalami kebangkrutan, karena pelaku sistem adalah manusia. Atau sebaliknya, kalau pemerintah, pelaku ekonomi dll tidak menerapkan sistem ekonomi yang sesuai syariah juga akan mengalami kebangkrutan. Agar tidak tidak bangkrut memang seluruh variabel tersebut harus bergerak secara bersama.
    Semoga dengan mengingat kembali apa yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun dan Dr. Chapra ini, kita bisa mendudukan secara tepat betapa vitalnya penerapan ekonomi syariah ‘yang benar’ itu untuk menghindari kebangkrutan ekonomi. Kita juga bisa mendudukan secara tepat, bahwa sistem ini –agar bisa bekerja secara baik- juga membutuhkan dukungan variabel lain yang juga sangat-sangat vital.

    Wallahu ‘alam bisshawab

    Salam

    A. Aziz Setiawan

    SEBI School of Islamic Economics

    http://www.sebi.ac.id
    sumber: ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  9. Rizqullah berkata:

    Akhirnya Opung MESir ikutan nimbrung jg..hehe. Sy setuju banget kalo itu yg dimksdkan oleh Pak BH, tapi menghubungkan ayat al Quran ttg pergiliran antara menang kalah dg praktek kapitalisme adalah tidak tepat. Rujukan ayat ttg pergiliran tsb hrslah dlm kontek sistem yg islami. Sy sependapat dg sdr Irfan Beik yg merujuk pd pandangan Ibnu Khaldun dimana keseluruhan dlm sistem seperti kelembagaan, instrumen, agen, kebijakan hrs sejalan dg nilai2 islami dan saling berinteraksi positif satu dg yg lainnya sehingga setiap proses interaksi tsb menghasilkan value bagi keseluruhan sistem dan dg demikian krisis dpt dihindari. Tetapi krn manusia diberi kebebasan utk berpikir dan menentukan pilihan, maka proses interaksi (mis.dlm penentuan dan penerapan kebijakan, pilihan instrumen dsb) tdk selamanya menghasilkan value positif. Dlm hal inilah maka krisispun bisa saja terjadi. Mdh2n ini komen sy yg terakhir. Wallahu a’lam bissawab. Salam.
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  10. Adhi Ariea berkata:

    assalamu’alaikum
    terimakasih atas tanggapannnya dr Bpk-bpk

    Alhamdulillah, sy sangat sependapat apabila orang terlibat dlm bisnis akan mengalami kemungkinan kerugian bahkan ketika mengaku telah menggunakan cara-cara Islami,krn di akuinya mekanisme loss-profir share dan zakat sbg penyangga dana sosial(katakanlah demikian).Bahwa kemanfaatan dlm sisi ekonomis suatu kegiatan ekonomi menjadi lebih penting ketimbang label itu sendiri apakah konvensional atau islami dan bahwa kerugian merupakan bagian dari ujian Allah swt kpd hamba-Nya.
    Yang ingin sy sampaikan adl bahwa mekanisme Islam dlm mengatur hamba-Nya dlm bermuamalah khususnya ekonomi InsyaAllah akan menjauhkannya dari ketidak manfaatan(kerugian) hanya saja apakah manusianya mampu membaca rambu-rambu yg diberikan oleh Allah swt atau tidak. Jika tidak mk niscaya ketidak manfaatan akan mendekati manusia tsb. Oleh krnya timbul ijtihad-ijtihad manusia untuk mencapai tingkat kemanfaatan yg optimal tsb (sy mencoba menyebutnya dg mencoba mendekati tingkat ketakwaan tertentu krn kedudukan manusia yg dipandang Allah swt adl ketakwaan) dg berbagai macam usaha,dg mendirikan LKS,pemerintahan yg Islami,RSC,NPL yg rendah dll yg baik.Shg spt dituliskan pak MESir ketika terjadi “kesalahan ijtihad” pelaku bisnis(sy mencoba menyebutnya dg kelalaian,kealfaan, keluh-kesah) shg menyebabkan kerugian maka Islam punya instrumen penolongnya yaitu dana-dana sosial td spt sedekah,zakat dll. Inilah yg sy ingin sampaikan akan keindahan sistem ekonomi Islam.
    Sebuah mekanisme ekonomi paripurna yg dpt menolong dan mengembalikan tingkat kemanfaatan sso/pelaku bisnis/ekonomi dr kesalahan ijtihad, kerugian dan ketidak manfaatan
    Jadi beda antara org beriman dan munafik adl seberapa besar tingkat kemanfaatan kpd dirinya dan org lain dan seberapa seberapa lama tingkat kemanfaatannya (sy mencoba menyebutnya amal jariyah), walaupun kedua manusia tsb keduanya meninggal pada saat yg sama.shg menurut sy pengandaian yg tepat adl org yg bersedekah dg ikhlas dan riya’

    Sejarah2 peradaban menjelaskan kpd kita ketika Islam berjaya hal tsb dikarenakan tingkat ketakwaan dan tingkat penghambaan- Nya sangat tinggi dan menurun manakala mulai menjauh dari nilai-nilai Islam dan lemahnya tingkat penghambaan kpd-Nya.
    Dan kejahatan akan mencapai kejayaannya manakala pelakunya lebih yakin akan nilai kesesatannya ketimbang pelaku yg lemah nilai2 kebenaran.
    Disinilah dipergilirkan antara pejuang kebenaran dan kejahatan, yg beriman dan yg sesat,yg mukhlisin dan yg munafik

    Kesimpulan sy adl bahwa yg kita lakukan sampai hr ini adl mencoba bersama-sama berijtihad scr optimal tuk mendekati sebuah nilai kebenaran (baik dr sisi ekonomi-sosial- politik dll) dlm kerangka meningkatkan ketakwaan kpd Allah swt dgn mendirikan LKS, teori-teori ekonomi yg mendekati nilai-nilai Islami,pmth yg mulai aspirasi thd nilai-nilai Islami dll.
    Jd seandainya ada ekonom eropa/barat/ nonmuslim yg menggunakan teori dan mekanisme Islami tdk mengubah opini bahwa itu adl teori newkapitalisme atau menjadi mahzab ekonomi baru spt yg dituliskan oleh pak ali sakti

    Wallahu’alam bi shawab
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  11. Adhi Ariea berkata:

    Alahmdulillah
    betul yg Bpk tuliskan bahwa kerugian dan keuntungan akan di pergilirkan dan hal tsb sunatullah. Dan keduanya (kerugian maupun keuntungan) merupakan ujian dari Allah swt bukan salah-satunya, yaitu kerugian saja.
    Bedanya antara org yg bertakwa jika ia mengalami kerugian mk ianya akan mengatakan innalillahi wa ina ilahi rojiun dan ia akan mengambil hikmah serta ibrohnya. Dan itu ternyata (kerugiannya) mendatangkan kemanfaatan (juga), dan apabila diberikan rahmat (katakanlah keuntungan)mk ianya akan berkata alhamdulillah dan bertambah rasa syukurnya.
    Jd persepsi kita sebenarnya sama bahwa jika orang berbisnis ada kemungkinan mengalami kerugian,akan tetapi bukan krn sistemnya yg salah melainkan ijtihad manusianya yg salah.
    Sangat tidak mungkin jika kita mengatakan klo Islam itu ajaran yg syamil dan mutakamil akan tetapi ada sedikit kelemahan, shg kita mengatakan tidak ada manusia yg sempurna krn yg sempurna adl ajarannya yaitu Islam secara sistem(sbg jln hidup).
    Mudah2 Allah swt tdk scr sengaja mendzolimi hamba-Nya.
    Yg sy pahami adl innalaha yughoiru bikaumin hatta yughoiru maa bi anfusihim dan berusaha berdasarkan atas kesanggupannya (al baqarah)..mk ada proses punish dan reward dr Allah swt thp hamba-Nya apabila salah dlm memahami ayat2nya dgn bentuk-bentuk ijtihad ekonomi yg dilakukannya (dlm hal ini kerugian dan keuntungan).
    Jd bagi sy sangat berbeda sekali antara sistem ekonomi Islam dan ijtihad dlm berekonomi/usaha.

    Wallahu’alam bi shawab
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

  12. Khairunnisa Musari berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Seperti halnya Pak Rizqullah, saya pun ingin mengomentari pendapat Pak Bambang Hermawan.

    1. Sah-sah saja jika Pak Bambang menafsirkan hancurnya lembaga keuangan di AS sebagai sebuah sunnatullah. Pak Bambang mengutip QS 3 : 140, “…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…”. Tapi, Pak Bambang mungkin perlu pula menyitir QS 2: 275-280. Intinya, segala sesuatu yang menyuburkan riba maka Allah akan memeranginya. Dan orang-orang yang makan riba, seperti orang kemasukan setan lantaran tekanan (penyakit) gila. Saya tidak bermaksud memperdebatkan hal ini karena untuk memahaminya bermuara pada persoalan keyakinan. Oleh karena itu, saya cenderung melihat persoalan krisis finansial AS dan global adalah momen di mana saat kehancuran yang dijanjikan Allah dalam memeranginya. Dengan dasar keyakinan itu pula, saya meyakini BI Rate dan segala instrumen yang sarat spekulasi, riba, maisyir, gharar yang ada dalam lembaga keuangan dan sistem moneter kita akan membawa ketidakbaikan.

    2. Saya setuju dengan pernyataan Pak Bambang ‘…seolah-olah lembaga keuangan yang menggunakan system Islam maka tidak mungkin akan mengalami kekalahan, kerugian bahkan keruntuhan.. .’. Namun demikian, kita perlu bijak dalam membedakan Islam dalam sebuah tataran aqidah/syariat dengan Islam dalam tataran implementasi. Sebagai seorang muslim, saya kira sudah seharusnya kita meyakini kebenaran aqidah kita. Dan sebagai muslim yang baik, sudah seharusnya kita meningkatkan keilmuan dan ketakwaan untuk menggali kebenaran dan jawaban-jawaban Al-Quran. Namun, sebagai manusia, tentu kita selalu khilaf. Oleh karena itu, dalam sebuah sistem Islam ataupun institusi Islam yang memiliki variabel atau unsur manusia di dalamnya, tentu tidak bisa dijamin 100 persen akan selalu berhasil, untung, dan membawa manfaat. Namun sebagai sebuah tuntunan hidup, seorang muslim harusnya meyakini bahwa Islam dan Al-Quran merupakan jawaban atas semua persoalan kehidupan kita.

    3. Pak Bambang mengatakan, ’Analisa keruntuhan dari lembaga-lembaga keuangan raksasa di amerika seyogyanya dicermati dari sudut pandang Tuhan (sunnatullah) . Dalam kaitan itu maka fenomena keruntuhan tersebut dapat dianalisa secara arif yaitu dengan tidak mempermasalahkan kejatuhannya yang sudah barang tentu merupakan bagian dari sunnatullah. Analisa yang lebih baik adalah dengan mencermati manfaat dari lembaga lembaga keuangan tersebut untuk masyarakat amerika dan lebih jauh untuk masyarakat dunia’.. Menurut saya, sebelum kita menyatakan apakah bermanfaat atau tidaknya lembaga keuangan tersebut, maka kita perlu berhitung dengan cermat gap antara manfaat dan ekses negatifnya secara komprehensif. Meskipun dalam beberapa hal ada manfaat yang diberikan, namun jika kita gali lebih jauh, lembaga tersebut sesungguhnya memiliki wajah dengan sisi buruk pula. Tidak mustahil, seluruh wajah tersebut bersisi buruk yang kemudian dipoles sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah wajah cantik. Wallahu’alam.
    Wassalam.
    ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s