Berhasilkah Bailout Memperpanjang Usia Kapitalisme?

Kalau sedikit ingin menyederhanakan masalah, ternyata program yang diambil oleh suatu otoritas dalam menghadapi krisis keuangan adalah; menambah utang, memotong utang, menghapuskan utang atau memberikan utang baru (ingat-ingat kasus Indonesia 1997-1998). Langkah ini dilakukan pada hakikatnya menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi masalah dalam ekonomi modern khususnya disektor keuangan. Krisis yang selalu melanda ekonomi global, regional maupun nasional sepanjang sejarah selalunya adalah krisis keuangan. Kondisi yang sangat nyata menjadi indikasi adalah ketimpangan antara sektor barang dan jasa dengan sektor keuangan. Transaksi yang menyedot volume maha besar dari uang beredar di sektor keuangan membuat ekonomi limbung pada satu titik tertentu (ratio tertentu antara volume sektor keuangan dan sektor riil). Bahkan waktu demi waktu potensi uang beredar yang sepatutnya digunakan untuk memproduksi barang dan jasa semakin menipis saja karena uang tersebut diarahkan oleh para kapitalis dan spekulator untuk melayang-layang saja di langit pasar keuangan.

Dan upaya diatas yang menggunakan instrumen utang dalam penanggulangan krisis, hakikatnya hanya mempersempit ketimpangan sektor riil dan keuangan. Artinya Utang berfungsi untuk memperpanjang nafas sektor keuangan karena memang utang secara jangka pendek akan menenangkan pasar dari kesulitan likuiditas (keadaan umum krisis keuangan). Bailout program oleh pemerintah amerika pada dasarnya berfungsi sama dengan upaya lazim yang kita tahu selalu direkomendasikan oleh IMF dan World bank bagi negara-negara berkembang ketika menghadapi krisis keuangan, yaitu mengatasi ketimpangan riil dan moneter/keuangan. hanya dalam kasus Amerika, pemerintah US memiliki uang relatif lebih banyak untuk digunakan untuk mengatasi kebutuhan likuiditas. sementara bagi negara-negara berkembang harus meminta kecukupan uang tersebut dari lembaga-lembaga keuangan internasional.
Namun melihat skala kerusakan dan besarnya guncangan keuangan di Amerika kali ini, apakah bailout mampu berfungsi efektif. Kita akan lihat beberapa waktu kedepan. Melihat sentimen negatif yang ditunjukkan pasar (penurunan tajam di bursa saham, meskipun ada indikasi disetujuinya bailout program), dan kecenderungan infeksi yang sudah menjalar ke Eropa (nasionalisasi beberapa bank di UK) dan Asia (penurunan nilai tukar dan bursa dibeberapa negara), menguatkan rasa pesimis pada bailout program pemerintahan Bush. Terlebih lagi program ini relatif berlarut-larut belum terealisasikan juga.
Presiden US Bush mengatakan bahwa bailout program merupakan jawaban untuk mengatasi akar permasalahan yang kini melanda sistem keuangan Amerika. Betulkah ia dan gang ekonomnya tahu apa akar permasalahannya? dengan paradigma konvensional tentu wajar ia beranggapan bahwa akar masalah ada pada kekurangan likuiditas untuk menjalankan roda sistem keuangan. Tetapi pernahkan para ekonom dibelakangnya sadar bahwa kondisi likuiditas yang guncang itu merupakan keniscayaan sistem? bahwa krisis ini selalu berulang. pernahkan ia sedikit curiga dengan sistem yang mereka anut? sistem yang melegalkan keserakahan? dan akhirnya program-program yang diambil menjadi sangat kental dengan pembelaan pada keserakahan. Bailout program lebih cenderung terlihat sebagai program yang melindungi para kapitalis, para CEO dan komisaris lembaga-lembaga keuangan, para politisi yang ternyata dominan “mengunjungi” pasar.
Apa yang ditawarkan oleh ekonomi Islam? yang jelas jika sistem ekonomi sejak awal menggunakan kaidah syariat tentu bentuk ekonomi akan menjadi single sector (tidak ada sektor “keuangan”) yaitu sektor riil saja. Sektor keuangan dalam definisi konvensional menjadi tidak ada. sehingga tidak mungkin ada kondisi ketimpangan, karena sektor riil menjadi satu-satunya aktifitas puncak dalam ekonomi. Artinya dalam ekonomi Islam tidak akan ada krisis keuangan, karena in nature struktur ekonominya tidak memberikan kesempatan kecenderungan atau gejala-gejala krisis muncul.
Kemudian apa yang dimaksud dengan sektor keuangan Islam? sektor keuangan Islam jika dipahami lebih dekat dan dalam, aktifitasnya selalu melekat dengan aktifitas yang ada di sektor riil, sehingga secara struktur, sebenarnya sektor keuangan Islam bukanlah sektor yang sederajat dengan sektor riil. Sektor ini relatif “tergantung” pada apa yang terjadi di sektor riil. dengan demikian kedudukan sektor keuangan dalam Islam tak lebih sebagai sektor pendukung dari ultimate sector/soul of economy yaitu sektor riil.
Dalam konteks jangka pendek, penanggulangan sebaiknya dimulai dengan memproteksi sektor keuangan, kemudian secepatnya melakukan perubahan regulasi di dalamnya, misalnya dengan pembatasan-pembatas an praktek-praktek spekulasi dan derivasi produk keuangan, seperti pengenaan pajak pada transaksi keuangan sebagai disinsentif. Selanjutnya harus dilakukan upaya-upaya mengeratan hubungan sektor keuangan dengan sektor riil. Menggunakan konsepsi Islam atau tidak bukanlah menjadi masalah, tetapi prinsip tentu akan tak terlalu jauh dari yang telah digariskan oleh ketentuan syariat. wallahu a’lam bishawab…
abiaqsa.blogspot. com
Ali Sakti a_sakti@yahoo.com
from ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Keuangan, pasar modal dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Berhasilkah Bailout Memperpanjang Usia Kapitalisme?

  1. A. Aziz Setiawan berkata:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Terima kasih atas provokasi diskusinya Pak Ali…

    Para ahli ekonomi yang kritis, saya kira sudah sampai pada satu titik temu, bahwa instabilitas finansial sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogen) dan bukan dari luar (eksogen). Kita juga melihat bahwa kekacauan ekonomi atau finansial saat ini bukanlah karena perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena sifat alamiahnya yang spekulatif.

    Tetapi apakah kapitalisme akan segera mati? Saya kira kita harus akui, belum bisa kita tunggu dalam jangka pendek. Ada tesis menarik yang disampaikan oleh Druker tentang “pembinasaan kreatif” (ini juga diulas oleh Alan Greenspan dalam buku terbarunya The Age of Turbulance). Bahwa kapitalisme dengan sepirit entreprenurship- nya akan terus memunculkan instusi baru untuk menggantikan Lehman, dkk yang collapse. Bahkan tentunya mereka tak segan mengadopsi model institusi ekonomi Islam dengan modifikasi mengikuti selera mereka. Kita juga harus melihat evolusi kapitalisme klasik yang sudah bergerak ke enlightment capitalism. Apakah institusi keuangan syariah yang berkembang dengan “model saat ini” bisa menjawab tantangan ? saya kira ini adalah permasalahan yang pelik. Karena meminjam kritik Ziauddin Sardar (mungkin banyak teman2 yang mengganggap tidak relevan, tetapi saya kira tetap relevan) bahwa pengembangan institusi keuangan Islam masih ‘tambal sulam’ (patcwork) dengan memodifikasi instrumen dari institusi konvensional.

    Dengan demikian, meminjam istilah Sahul Hameed, kita akan menghadapi incongruency, dimana objektif dari lahirnya ekonomi Islam untuk melahirkan falah dengan merealisasi maqashid syariah tidak terwujud. Cita-citanya Islami, tapi cara dan instrumennya tidak sepenuhnya sejalan dengan spirit yang dibawa Islam, akhirnya capaian akhirnya juga akan cenderung seperti ekonomi konvensional.

    Kejatuhan sebuah peradaban senantiasa membutuhkan pengganti yang bisa segera memimpin peradaban. Demikian juga sistem ekonomi, ketika yang satu bangkrut yang lain akan terbit. Tetapi banyak juga yang baru bertunas, kemudian segera mati bersama para pembawanya yang bertumbangan. Yang jatuh juga berusaha menyeret yang lain, karena dunia ini satu. Disinilah saya kira memakai pendekatan Ibnu Khaldun dalam menganalisis jatuh bangunnya peradaban, sistem ekonomi yang sudah mencapai titik puncak juga akan mengalami decline secara perlahan sampai ada sistem lain yang benar-benar bisa menggantikan perannya.

    Dan dengan demikian kita memang harus sungguh2 membangun institusi ekonomi Islam dengan kesabaran berdaya jangkau panjang. Tidak pragmatis untuk kepentingan sesaat, berdimensi satu generasi saja misalnya, tetapi meninggalkan persoalan yang ruwet bagi generasi sesudah kita.

    Semoga para regulator, ulama’, praktisi dan akademisi benar-benar memperhatikan dimensi maslahah makro dan mikro berprespektif jangka panjang juga dalam melakukan assesmen terhadap instrumen2 yang dikembangkan dalam institusi keuangan Islam…

    Saya kira Pak Ali Sakti, Pak Mulya Siregar, dkk. sebagai regulator memiliki tangungjawab yang besar untuk untuk fight diladang ini. Juga teman2 yang ada di DSN yang memegang otoritas fatwa. Ada jutaan umat dan generasi sesudah kita yang menunggu estafeta yang kita bangun saat ini. Tentu saja juga kita semua sesuai dengan amanah posisi yang Allah berikan kepada kita semua. Selamat kembali berjihad di medan laga ini, setelah ditempa dalam Ramadhan Sahru Jihad.

    Mewakili Civitas Akademika STEI SEBI, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1429 H Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga Spirit Ramadhan membekas dalam hari2 kita berikutnya…

    Salam

    A. Aziz Setiawan

    Ketua Prodi Keuangan & Perbankan Syariah STEI SEBI
    sumber : ekonomi-syariah@yahoogroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s