Menggagasi Sistem Nilai Tukar Uang Islam

Untung Kasirin
Mahasiswa STEI SEBI Jakarta

Dimuat di http://www.Pesantrenvirtual.com

Sejarah mencatat, dalam sistem moneter Internasional pernah dikenal
tiga macam sistem nilai tukar mata uang (kurs valas). Tiga sistem
tersebut adalah Fixed Exchange Rate System, Floating Exchange Rate
System dan Pegged Exchange Rate System.

Era fixed exchange rate system ditandai dengan berlakunya Bretton
Woods System sejak 1 Maret 1947. Sistem ini menuntut agar nilai suatu
mata uang dikaitkan atau convertible terhadap emas atau gold exchange
standard. Pada waktu itu, mata uang dolar AS menjadi acuan
(numeraire), di mana semua mata uang yang terikat dengan sistem ini
dikaitkan dengan USD. Untuk mencipta uang senilai $35, Federal Reserve
Bank (Bank Sentral Amerika) harus mem-backup dengan emas senilai 1
ounce atau 28,3496 gram. Dengan demikian, nilai mata uang secara tidak
langsung dikaitkan dengan emas melalui USD.

Namun ternyata, The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas
emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat
dunia terhadap dolar AS. Hal tersebut ditandai dengan peristiwa
penukaran dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa. Adalah
Perancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama
kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta
dollar AS dengan emas. Tindakan Perancis ini kemudian diikuti oleh
Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis,
cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis. Ujungnya, secara
sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit
Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971, yang isinya antara lain,
USD tidak lagi dijamin dengan emas. `Istimewanya’ , dollar tetap
menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di
dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan
floating exchange rate.

Floating exchange rate atau sistem kurs mengambang adalah sistem yang
ditetapkan melaui mekanisme kekuatan permintaan dan penawaran di bursa
valas dan sama sekali tidak dijamin logam mulia. Pemerintah melalui
Bank Sentral bebas menerbitkan sejumlah berapapun uang. Hal inilah
yang menyebabkan nilai mata uang cenderung terdepresiasi, baik
terhadap mata uang kuat (hard currency) maupun terhadap harga barang.
Kondisi ini kemudian diperparah oleh aksi spekulan yang mengakibatkan
nilai mata uang berfluktuasi secara bebas. Meski bisa dikendalikan
melalui intervensi—yang dikenal dengan managed floating, otoritas
pemerintah suatu negara cenderung menghindari hal ini karena
membutuhkan sumber daya yang sangat besar yang berupa cadangan devisa.
Berakhirnya fixed exchange rate dan bermulanya floating exchange rate,
konon ditengarai sebagai awal dari berbagai rangkaian kesulitan
moneter yang dikenal dengan “krisis moneter internasional” (Hamdy
Hady, 2001).

Sistem yang ketiga, pegged exchange rate ditetapkan dengan jalan
mengaitkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain atau
sejumlah mata uang tertentu yang biasanya merupakan mata uang kuat
(hard currency). Sistem ini pernah dijalankan antara lain oleh
negara-negara Afrika serta Eropa. Secara hakikat, sistem ini tak jauh
beda dengan floating exchange rate system. Hal ini dikarenakan
mekanisme hard currency sebagai mata uang yang dipagu (pegged) masih
ditentukan melalui kekuatan supply dan demand pada bursa valas dalam
hal mata uang yang dijadikan sebagai acuan.

Sistem Moneter Islam

Pertanyaannya, dari ketiga sistem moneter di atas, manakah yang sesuai
dengan konsep ekonomi Islam? Beberapa argumen muncul. Yang paling
dianggap benar, namun sering dianggap radikal bahkan oleh pengusung
ekonomi Islam sendiri adalah kembali menggunakan mata uang fisik dinar
dan dirham (full bodied money). Yang moderat mengusulkan supaya mata
uang sekarang agar di-backup dengan emas sebagaimana Bretton Woods.
Sedangkan yang paling lunak adalah sebagaimana seperti adanya
sekarang, hanya bagaimana pemerintah mengatur supaya tidak ada lagi
unsur maghrib (masyir `spekulasi’, gharar `penipuan’ dan riba) dalam
sistem moneter yang berlaku. Dari ketiga usulan itu, penulis dengan
tegas menolak yang disebutkan terakhir berdasarkan kenyataan bahwa
sistem moneter yang ada sekarang memungkinkan pihak yang mengejar
keuntungan pribadi melakukan aksi maghrib tersebut. Terbukti,
betapapun pemerintah menghimbau para spekulan, aksi spekulasi di bursa
valas masih tetap gencar.

Adapun alternatif yang pertama, saat ini akan (masih) sulit
diwujudkan. Kesulitan ini terutama karena dinar dan dirham—meski
sebenarnya merupakan mata uang dari luar Islam yaitu Romawi dan
Persia—telah dicitrakan sebagai mata uang Islam. Menurut penulis,
seandainya negara-negara Islam mengusulkan kepada dunia untuk
menggunakan dinar dirham, akan banyak penolakan terutama Barat yang
phobia terhadap Islam.

Dengan begitu, peluang terbesar ada pada usulan moderat, yaitu agar
mata uang-mata uang sekarang kembali di-backup dengan emas—tentu
dengan beberapa penyempurnaan dari system sebelumnya (Bretton Woods).
System inilah yang oleh kalangan barat ingin kembali digulirkan yang
dikenal dengan istilah Bretton Woods II. Usulan ini bahkan didukung
oleh nama-nama besar seperti Joseph E. stiglitz (Ekonom Peraih Nobel
dari Amerika), Gordon Brown (PM Inggris) hingga Nicholas Sarkozy
(Presiden Perancis).

Keunggulan Gold Exchange Standard

Ada beberapa alasan mengapa mesti kembali pada gold exchange standard
daripada sistem nilai tukar yang lain. Pertama, jumlah uang yang
beredar di masyarakat bisa terkendali dengan baik dan tidak merajalela
sebagaimana sekarang. Kondisi ini pada gilirannya akan mempertahankan
kestabilan nilai tukar mata uang yang merupakan kondisi yang kondusif
bagi perekonomian.

Kedua, dengan menggunakan gold exchange standard, perekonomian suatu
Negara secara otomatis bisa melakukan mekanisme penyesuaian
(adjustment) posisi BOP (Balance of Payment), yakni kembalinya posisi
neraca pembayaran pada kondisi equilibrium bahkan surplus. Mekanisme
ini sebagaimana dijelaskan oleh David Hume yang dikenal dengan “price
specie flow mechanism” sebagai berikut. Ketika suatu negara mengalami
defisit BOP, persediaan emas turun karena lari ke luar negeri. Larinya
emas ke luar negeri berakibat turunnya money supply domestik yang
disertai dengan turunnya harga-harga barang. Akibatnya, harga barang
dalam negeri menjadi kompetitif yang pada gilirannya akan kembali
meningkatkan ekspor pada kondisi semula atau bahkan lebih besar.

Ketiga, keuntungan mengunakan gold exchange standard adalah bahwa emas
secara instrinsik menjaga nilainya dari fluktuasi bebas sebagaimana
mata uang kertas. Untuk melakukan transaksi perdagagan, gold standard
tidak memerlukan hedging yang pada hakikatnya merupakan barrier bagi
perdagangan.

Beberapa Catatan

Di depan telah disinggung bahwa perlu adanya upaya penyempurnaan dari
system Bretton Woods jika nantinya Bretton Woods II ingin kembali
diwujudkan. Pertama, mata uang yang dipakai sebagai standar
(numeraire) bukanlah mata uang negara atau kelompok negara tertentu
karena cenderung terjadi hegemoni dari negara yang mata uangnya
dijadikan sebagai standard tersebut sebagaimana kasus USD. Mata uang
numeraire adalah mata uang independen yang diakui secara internasional.

Kedua, harus ada kontrol ketat bahwa untuk menciptakan mata uang
standar tersebut harus tersedia emas yang memadai yang disimpan pada
otoritas keuangan internasional. Selain itu, otoritas moneter
internasional tersebut harus merupakan representasi seluruh negara di
dunia, bukan corong kelompok kekuatan tertentu.

http://www.ukasbaik.wordpress.com

Tentang Neng

Sweet. Cute. Young. Smart. and It's Wrong
Pos ini dipublikasikan di Perbankan Syariah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menggagasi Sistem Nilai Tukar Uang Islam

  1. Farizal berkata:

    ALLAHU AKBAR!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s